Saat ini aku sedang kuliah semester dua di salah satu universitas swasta di selatan Jakarta. Ini kisah beberapa bulan lalu, sekaligus cerita pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks. Hari pertama kuliah memang membosankan karena belum kenal teman-teman. Tetapi, dengan jarak satu baris, ada mahasiswi duduk tiba-tiba, dia terlambat sekitar 10 menit. Kemudian agak kulirik hati-hati bagaimana rupanya. Memang sih tidak terlalu cantik tetapi manis. Ditambah kulit coklatnya, rambutnya agak ikal, panjangnya setengah leher, belah tengah. Sejenak otak terpenuhi pikiran-pikiran kotor. Bajunya abu-abu dengan lengan biru dan agak ketat, jadi buah dadanya terlihat mancung. Perkiraanku sekitar 34A ukurannya.
Sekitar seminggu berlalu, tetapi aku belum juga kenal dengan cewek itu. Seminggu kemudian, saat aku sedang ngobrol dengan beberapa temanku (yang kenal dengan cewek itu), tiba-tiba dia menghampiri kumpulanku dan teman-temanku. Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya dia duluan yang bertanya untuk berkenalan.
"Eh, elo namanya siapa..?" katanya.
Dalam hatiku, "Agresif nih kayaknya.. bodo ah, tancap aja..!"
Lalu kubilang, "Eldi."
Dia juga ngejawab, "Diya Hartiyan, panggil aja Yayan."
Akhirnya kami berkenalan juga.
Setelah aku merasa akrab dengannya, pikiranku mulai kembali pada pikiran-pikiran kotorku lagi. Bahkan lebih parah, ingin bersetubuh dengan Yayan. Setiap kali kulihat dada seksinya, batang kejantananku mulai tegang. Malah, kadang-kadang kalau sedang duduk di belakangnya, Yayan seringkali membangkitkan nafsuku dengan melepas ikat rambutnya dan menaikkan rambutnya hingga lehernya terlihat. Juga bibirnya yang sexy, yang mungkin terlalu enak untuk dicium dan dikulum. Nafsuku yang sudah meledak suka ingin membuatku melepaskan celana dan onani di depan wajahnya. Aku juga ingin memiliki fotonya buat bahan onani di kamar atau di kamar mandi. Tetapi berhubung nafsuku sudah kelewat batas, aku sering onani dengan bahan hanya menggunakan daya khayalku saja.
Yang membuatku bertambah nafsu, Yayan gampang sekali dirangkul atau dipeluk cowok. Kupakai kesempatan ini dengan memeluk bagian pinggangnya, apalagi Yayan malah menanggapinya dan membalasnya. Kemudian, pada saat ujian negara semester 1, wanita diharuskan memakai rok panjang semata kaki. Begitu kulihat Yayan, wuaih.. anggun sekali! Apalagi dengan tambahan belahan roknya yang hampir sedengkul. Ketika kebetulan dia duduk, kulihat pahanya yang ternyata tidak sehitam kulit bagian lainnya, melainkan lebih coklat muda, hampir putih. Batang kejantananku kembali terangsang. Sesampainya di rumah, aku melakukan onani lagi.
Lalu, inilah saat-saat yang mengejutkan. Setelah midtest semester dua, salah seorang temanku ingin main ke rumahku yang juga mengajak beberapa teman-teman lainnya. Kebetulan orangtuaku sedang tidak ada di rumah. Bagian yang paling mengejutkan dan membuat nafas memburu adalah Yayan ikut juga ke rumahku. Hari itu Yayan memakai kemeja yang agak memperlihatkan bagian pusarnya. Di rumah aku mencoba biasa saja dan berusaha menutupi nafsu birahiku. Tidak lama Yayan ingin ke kamar mandi. Karena rumahku bertingkat, dan kamar mandi atas lagi rusak (airnya tidak jalan), kuantarkan Yayan ke kamar mandi bawah (sementara teman-teman lainnya di atas main Play Station) sambil mencoba menstabilkan nafas yang memburu melambangkan orang penasaran.
Sejenak aku berpikir, "Terlalu nekat nih.. tapi, kapan lagi..?"
Akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diriku. Aku pura-pura menjelaskan bagian-bagian kamar mandiku kepada Yayan.
"Yan, ini showernya, ati-ati lho nyemprotnya kencang, trus WC-nya.. udah bisa kan..?"
Tidak lama kemudian kulakukan niat gilaku.
"Emm.. Yan..!" aku bertanya agak gemetaran sambil melihat tangga.
Yayan menjawab, "Apaan sih..? Ada apa..?"
"Ehmm.. Gue.. boleh..," Yayan langsung memotong, "Apaan sih..! Boleh apaan..?"
"Gue boleh cium elo, nggak..?"
Batinku berkata, "Kok kayak anak SMP yah..? Tapi, bodo amat lah..!"
Yayan agak tertegun, "Hah..! Ee.. emm.."
Entah adrenalin dari mana yang datang, tiba-tiba kupegang pinggang kanannya sambil menarik Yayan ke pelukanku. Yayan terlihat tidak berdaya, hanya agak mendesah. Langsung saja kucium perlahan bibir seksinya itu.
Awalnya bibir Yayan hanya diam saja, terkadang agak membuka lebar. Namun setelah agak lama, Yayan mulai memejamkan matanya dan langsung melingkari kedua tangannya di leherku, lalu membalas ciumanku ditambah jilatan di ujung bibirku. Sesekali Yayan juga mengulum lidahku dan agak digigit.
Aku mendengar desahan Yayan, "Ehmm.. eehh.. mm.." mungkin karena menikmati kulumannya.
Lalu Yayan yang mulai agresif, mendorongku ke tembok sambil membuka bajuku. Terpikir olehku, seperti di film saja. Setelah bajuku lepas, Yayan melemparkannya ke lantai dan menjilati dadaku, lalu turun menjilati bulu daerah pusarku. Bukannya geli yang kurasakan, tetapi justru menambah kencangnya ereksi batang kemaluanku. Lalu kubalas lagi melucuti kemejanya. Terlihat buah dadanya yang bulat sexy.
Sambil meneruskan ciuman mautku, kulepas kaitan BH-nya. Kulempar BH-nya ke lantai dan mulai menghisapi buah dada Yayan.
"Aghh.. ahhgghh.., Di.. aahh..!" Yayan terlihat berkeringat dan mengeluarkan desahan.
Beruntung pintu kamar mandi sudah kututup rapat. Puting Yayan kubasahi dengan ludah dan kujilati kembali. Yayan juga sesekali menjambak rambutku dan menjilati daun telingaku. Setelah lama bermain pada puting payudaranya, kulepaskan celana panjang dan celana dalamku. Kemudian aku menyender di tembok sambil memegangi batang kejantananku yang sudah berdiri tegang dan agak berurat. Yayan tidak mulai memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya, tapi malah memainkannya dengan sedikit kocokan. Serentak dengan masuknya batang kejantananku ke mulut Yayan, aku merasakan ada semacam getaran listrik di daerah pinggul dan selangkangan.
"Eghh.. Yan.. ehhgghh..!" aku juga mendesah karena enaknya hisapan Yayan.
Sesekali Yayan juga meludahi ujung batang kemaluanku dan menjilati pinggirnya. Akhirnya, kuajak Yayan untuk melakukan persenggamaan.
"Ehh.. Yan.. gue masukkin yahh.. hh..!" sambil nafasku naik-turun.
Tanpa banyak bicara kecuali sedikit desahan, "Eughh.. ehh.." Yayan langsung mendorongku ke dudukan WC, sehingga aku terduduk dan Yayan duduk di pangkuanku setelah melucuti celananya.
Wajahnya menghadap ke arahku. Yayan sendiri yang mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya.
"Esshhghh.. emmhh..!" Yayan mendesah namun seperti tertahan.
Wajahnya terlihat agak merah. Dari situ kuketahui kalau dia sepikiran denganku. Tidak ingin suaranya kedengeran. Akhirnya aku melakukan persetubuhan untuk pertama kalinya. Setelah Yayan menusukkan batang kejantananku ke liang senggamanya, aku merasakan ujung batang kejantananku menabrak dan mendorong sesuatu. Nampaknya selaput daranya tertekan.
Batinku berkata, "Yess.. Yayan masih perawan."
Yayan mencoba mengayunkan badannya ke atas dan bawah.
Kugoyangkan juga badanku ke atas dan ke bawah. Kurasakan selaput Yayan sudah robek. Mungkin nanti akan terlihat noda darah. Goyangan Yayan semakin kencang. Sekujur tubuhnya terlihat kucuran keringat. Bagitu juga badanku, terutama bagian leher. Kuusapi keringatnya dengan tanganku sambil mengelus tubuh seksinya, juga kutempelkan badannya ke badanku. Karena aku takut tutup WC-nya jebol, kuangkat Yayan dengan batang kejantananku masih menancap, dan kutiduri Yayan di lantai. Untung lantainya belum basah, jadi masih bersih. Kukangkangkan kedua kakinya, kutempelkan di pinggang dan kupegangi. Goyanganku kini maju mundur.
"Aghh.. aah.. Di.. a.. ayo.. Di..!" Yayan kembali mendesah sambil memanggil namaku.
Kembali aku merasakan adrenalin aneh merasukiku. Biasanya senafsu-nafsunya aku onani, paling cepat hanya 5 menit. Karena di kamar mandiku ada jam dinding, kulihat sudah hampir 10 menit sejak ciuman pertamaku itu, aku belum juga mencapai klimaksnya. Kalau onani pasti sudah keluar dari tadi. Akhirnya, Yayan ejakulasi duluan. Di sekujur batang kemaluanku kurasakan cairan hangat dari vaginanya. Kocokanku masih berlanjut, tetapi tidak lama. Aku merasa juga sudah ingin segera mencapai orgasmeku. Karena takut keluar di dalam, segera kucabut batang kejantananku. Aku bermaksud untuk memuncratkan spermaku di wajahnya.
Sambil kudekatkan batang kemaluanku ke bibir Yayan, kukocok sedikit lagi dengan telapak kananku yang sebagian dipenuhi oleh air mani Yayan. Kemudian ketika mau keluar, Yayan ikut memegangi batang kemaluanku.
"Crot.. crot..!" Spermaku membanjiri wajahnya.
Nampak seputar bibirnya dipenuhi sperma putih kental. Juga di pipinya, hidung, alis dan ada yang memuncrat hingga mengenai rambutnya. Sisa-sisa spermaku ditelan habis oleh Yayan.
"Aghh.. Di.. sperma loe banyak bangeetthh..!" Yayan mencoba berbicara sambil masih mengocok batang kejantananku dan membersihkan wajahnya dari lelehan cairan panas itu.
"Ghhahh.. ahh.. Yan.. capek nih gue..! Kuat juga elo..!" aku mencoba bercanda.
Yayan membalas, "Eughh.. ehh.. elo lagi.. kuat banget..!"
Akhirnya Yayan membersihkan bekas sperma yang membasahi sekitar wajahnya dan berpakaian kembali. Aku sepakat dengan Yayan untuk bilang kalau kami tadi lagi nelpon dulu, jadi agak lama naiknya, biar yang lainnya tidak pada curiga, dan Yayan menjawab setuju dengan ciuman.
Setelah melakukan persetubuhan itu, Yayan ke atas duluan, pura-pura tidak ada apa-apa. Begitu juga aku sehabis berbohong menelepon.
TAMAT
Seks story
Rabu, 27 Februari 2013
Nikmatnya tubuh adik temanku
Saya lahir di Jakarta, keturunan cina, umur 28 thn, kerja disalah satu perusahaan swasta sebagai auditor pembukuan dan keuangan, saya ditugasi untuk mengawasi cabang denpasar, jadi saya tinggal disana menempati rumah kontrakan.
Suatu hari saya diberi kabar oleh pacar saya (Wiwi umur 26) yg di Jakarta, bahwa dia mau datang bersama adiknya (Irene umur 22).
Setelah kedatangannya, mereka menginap di kontrakanku (kamar tamu).
Tetapi Wiwi tidak bisa lama, karena dia hanya diberi ijin oleh kantornya 3 hari.
Selama 3 hari saya dan Wiwi selalu ngumpet-ngumpet dari cicinya untuk bermesraan, dan sialnya kita hanya bisa melakukan hubungan sex 1X (kami dulu telah biasa melakukannya sewaktu saya tingal di Jakarta), karena kesempatan untuk itu susah sekali.
Setelah Wiwi pulang, tinggal saya dan Irine yg masih mau liburan di bali.
Pada hari minggu saya ajak dia jalan ke berbagai tempat wisata, pulangnya dia langsung ingin istirahat karena kelelahan. Karena saya belum merasa ngantuk, saya ke ruangan tamu untuk nonton tv, sedangkan dia masuk kamar tidur tamu untuk istirahat.
Setelah acara yg saya sukai selesai, saya melihat jam, ternyata sudah jam 1 pagi, tiba-tiba muncul ide isengku untuk memasuki kamar tidur Irene, dengan perlahan-lahan saya berjalan mendekati pintu kamarnya, ternyata tidak dikunci, saya masuk dan melihat Irene telentang dengan kedua lengan dan paha terbuka, saya langsung mengambil tali plastik dan perlahan-lahan saya melucuti pakaiannya semua, mungkin karena dia terlalu lelah sehingga tidurnya sangat nyenyak sampai tidak tahu apa yg sedang saya lakukan, setelah semua pakaiannya kubuka, saya langsung mengikat lengan dan kakinya ke sudut-sudut ranjang.
Tiba-tiba dia terbangun, dan terkejut karena tubuhnya telah telanjang polos dan terikat di ranjang. "Ko lepasin saya", suaranya gemetaran karena shock. "Cepat lepasin Ko!" Irene mengulangi perintahnya, kali ini lebih keras suaranya. Tubuh telanjangnya telah mambiusku. Aku segera mencopot celana dan celana dalamku dengan cepat. "Ko!" Irene memekik. "Mau ngapain kamu?" Irene terkesiap melihat batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Kusentuh payudaranya dengan kedua tanganku, rasanya dingin bagai seonggok daging.
"Koko gila luu yah!" Aku merasakan sensasi aneh melihat payudara dan liang kemaluan adik pacarku ini. Jelas beda dengan waktu-waktu dulu kalau mengintip dia ganti baju di kamarnya. Sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. "Koko, gua khan adik Wiwi!" Aku menyentuh liang kemaluannya dengan tanganku, lalu menjilatinya.
Setelah puas segera kuletakkan batang kemaluanku di gerbang liang kemaluan Irene. "Ko jangaaan!" dia memohon-mohon padaku. "Diam.. cerewet!" aku menjawab dengan sembarangan. Sekali batang kemaluanku kudorong ke depan, tubuhku sudah menjadi satu dengannya. "Iiiih... shiit!" dia mengumpat tapi ada nada kegelian dari suaranya itu. Aku menggoyangkan pinggangku secara liar hingga batang kemaluanku mengocok-kocok liang kemaluannnya. "Ahh... shiit! ah shiiit! Ko stop!" Semakin dia mamaki dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, semakin terangsang aku jadinya.
Sambil memompa liang kemaluannya aku menghisap puting-puting payudaranya yang agak berwarna pink itu. "Mmmh.. udah jangan Ko!" Irene masih berteriak-teriak memintaku berhenti. "Lu diam aja jangan banyak ngomong", ujarku cuek. "Ohh shiit!" ujarnya mengumpat. Dia menatapku dengan tatapan yang bercampur antara kemarahan dan kegelian yang ditahan. Sejenak aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku melihatnya terikat seperti ini. Dengan menggunakan cutter yang tergeletak di meja samping ranjang aku memotong tali yang mengikat kedua kakinya. Begitu kedua kakinya terlepas dia sempat berontak. Tapi apa dayanya dengan posisi telentang dengan tangan masih terikat. Belum lagi posisiku yang sudah mantap di antara kedua kakinya membuat dia hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-nendang tanpa hasil. "Aaahh Ko stop dong... udah Ko.. gue khan adik Wiwi", dia memohon lagi tapi kali ini suaranya tidak kasar lagi dan terdengar mulai berdesah karena geli. Nafasnya pun mulai memburu. Aku menjilati lehernya dia melengos ke kiri dan ke kanan tapi wajahnya mulai tidak mampu menutupi rasa geli dan nikmat yang kuciptakan. " Aduhh sshhh Ko udah dooong.. hhh.. sssh!" suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih. Kedua kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan tendangannya bukan karena berontak melainkan menahan rasa geli dan nikmat.
Aku menaikkan tempo dalam memompa sehingga tubuhnya semakin bergetar setiap kali batang kemaluanku menusuk ke dalam liang kemaluannya yang hangat berulir serta kian basah oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu. Kali ini suara nafas Irene kian berat dan memburu, "Uh.. uh.. uhhffssh.. shiit Kooo.. agh uufffssshhh u.. uhhh!" Wajahnya semakin memerah, sesekali dia memejamkan matanya sehingga kedua alisnya seperti bertemu. Tapi tiap kali dia begitu atau saat dia merintih nikmat, selalu wajahnya dipalingkan dariku. Pasti dia malu padaku. Liang kemaluannya mulai mengeras seperti memijit batang kemaluanku. Pantatnya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan batang kemaluanku keluar masuk liang kenikmatannya yang sudah basah total. Saat itu aku berbisik "Gimana, lu mau udahan?" Aku menggodanya. Sambil mengatur pernafasan dan dengan ekspresi yang sengaja dibuat serius, dia berkata, "I.. iiya.. udah.. han yah Ko", suaranya dibuat setegas mungkin tapi matanya yang sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sudah sangat menikmati permainanku ini. "Masa?" godaku lagi sambil tetap batang kemaluanku memompa liang kemaluannya yang semakin basah sampai mengeluarkan suara agak berdecak-decak. "Bener nih lu mau udahan?" godaku lagi. Tampak wajahnya yang merah padam penuh dengan peluh, nafasnya berat terasa menerpa wajahku. "Jawab dong, mau udahan gak?" aku menggodanya lagi sambil tetap menghujamkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya.
Sadar aku sudah berkali-kali bertanya itu, dia dengan gugup berusaha menarik nafas panjang dan menggigit bibir bagian bawahnya berusaha mengendalikan nafasnya yang sudah ngos-ngosan dan menjawab, "Mmm... iya.. hmmm." Aku tiba-tiba menghentikan gerakan naik turunku yang semakin cepat tadi. Ternyata gerakan pantatnya tetap naik turun, tak sanggup dihentikannya. Soalnya liang kemaluannya sudah semakin berdenyut dan menggigit batang kemaluanku. "Ehmmm!" Irene terkejut hingga mengerang singkat tapi tubuhnya secara otomatis tetap menagih dengan gerakan pantatnya naik turun. Ketika aku bergerak seperti menarik batang kemaluanku keluar dari liang kemaluannya, secara refleks tanpa disadari olehnya, kedua kakinya yang tadinya menendang-nendang pelan, tiba-tiba disilangkan sehingga melingkar di pinggangku seperti tidak ingin batang kemaluanku lepas dari lubang kemaluannya.
"Lho katanya udahan", kata-kataku membuat Irene tidak mampu berpura-pura lagi.
Mukanya mendadak merah padam dan setengah tersipu dia berbisik, "Ah shiiit Kooo... uhh... uhhh.. swear enak banget... pleasee dong terusiiin yeeass!" belum selesai ia berkata aku langsung kembali menggenjotnya sehingga ia langsung melenguh panjang. Rupanya perasaaan malunya telah ditelan kenikmatan yang sengaja kuberikan kepadanya. "Ah iya.. iiiya.. di situ mmmhhh aaah!" tanpa sungkan-sungkan lagi dia mengekspresikan kenikmatannya. Selama 15 menit berikutnya aku dan dia masih bertempur sengit. Tiga kali dia orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat kerena bersamaan dengan saat aku ejakulasi. Spermaku menyemprot kencang sekali bertemu dengan semburan-semburan cairan kenikmatannya yang membanjir. Irine pasti melihat wajahku yang menyeringai sambil tersenyum puas. Senyum kemenangan.
Aku melepaskan ikatannya. Dia kemudian duduk di atas kasur. Sesaat dia seperti berusaha menyatukan pikirannya.
"Huuhh, kamu hebat banget sih Ko, sering yach melakukan dengan Wiwi"
"Enggak juga koq!
"Alah, sama setiap cewek yang kamu tidurin juga jawabannya pasti sama"
Keperawanan lu kapan diambil? tanyaku
Sewaktu pacarku ingin pergi ke Amerika untuk kuliah, saya hadiahkan sebagai hadiah perpisahan
Kemudian dia bangkit dengan tubuh yg lemah ngeloyor ke kamar mandi, setelah selesai bersih-bersih Irene kembali lagi ke kamar.
Di depan pintu kamar mandi kusergap dia, kuangkat satu pahanya dan kutusuk sambil berdiri. "Aduh kok ganas banget sih Lu!" katanya setengah membentak. Aku tidak mau tahu, kudorong dia ke dinding kuhajar terus vaginanya dengan rudalku. Mulutnya kusumbat, kulumat dalam-dalam. Setelah Irene mulai terdengar lenguhannya, kugendong dia sambil pautan penisku tetap dipertahankan. Kubawa dia ke meja, kuletakkan pantatnya di atas meja itu. Sekarang aku bisa lebih bebas bersenggama dengan dia sambil menikmati payudaranya. Sambil kuayun, mulutku dengan sistematis menjelajah bukit di dadanya, dan seperti biasanya, dia tekan belakang kepalaku ke dadanya, dan aku turuti, habis emang nikmat dan nikmat banget. "aahh.... ssshh.... oohh.... uuuuggghh.... mmhh", Irene terus meracau.
Bosen dengan posisi begitu kucabut penisku dan kusuruh Irene menungging. Sambil kedua tangannya memegang bibir meja. Dalam keadaan menungging begitu Irene kelihatan lebih aduhai! Bongkahan pantatnya yang kuning dan mulus itu yang bikin aku tidak tahan. Kupegang penisku dan langsung kuarahkan ke vaginanya. Kugesekkan ke clitorisnya, dan dia mulai mengerang nikmat. Tidak sabar kutusukkan sekaligus. Langsung kukayuh, dan dalam posisi ini Irene bisa lebih aktif memberikan perlawanan, bahkan sangat sengit. "Aahh Kooo Akuuu mmooo.. kkeeelluuarr lagggi..." racaunya. Irene goyangannya menggila dan tidak lama tangan kanannya menggapai ke belakang, dia tarik pantatku supaya menusuk lebih keras lagi. Kulayani dia, sementara aku sendiri memang terasa sudah dekat. Irene mengerang dengan sangat keras sambil menjepit penisku dengan kedua pahanya. Saya tetap dengan aksiku. Kuraih badannya yang kelihatan sudah mulai mengendur. Kupeluk dari belakang, kutaruh tanganku di bawah payudaranya, dengan agak kasar kuurut payudaranya dari bawah ke atas dan kuremas dengan keras. "Eengghh.... oohh.... ohh.... aahh", tidak lama setelah itu bendunganku jebol, kutusuk keras banget, dan spermaku menyemprot lima kali di dalam.
Dengan gontai kuiring Irene kembali ke ranjang, sambil kukasih cumbuan-cumbuan kecil sambil kami tiduran. Dan ketika kulihat jam di dinding menunjukan jam 02.07. Wah lumayan, masih ada waktu buat satu babak lagi, kupikir. "rine, vagina dan permainan kamu ok banget!" pujiku. "Makasih juga ya Ko, kamu juga hebat", suatu pujian yang biasa kuterima!
Suatu hari saya diberi kabar oleh pacar saya (Wiwi umur 26) yg di Jakarta, bahwa dia mau datang bersama adiknya (Irene umur 22).
Setelah kedatangannya, mereka menginap di kontrakanku (kamar tamu).
Tetapi Wiwi tidak bisa lama, karena dia hanya diberi ijin oleh kantornya 3 hari.
Selama 3 hari saya dan Wiwi selalu ngumpet-ngumpet dari cicinya untuk bermesraan, dan sialnya kita hanya bisa melakukan hubungan sex 1X (kami dulu telah biasa melakukannya sewaktu saya tingal di Jakarta), karena kesempatan untuk itu susah sekali.
Setelah Wiwi pulang, tinggal saya dan Irine yg masih mau liburan di bali.
Pada hari minggu saya ajak dia jalan ke berbagai tempat wisata, pulangnya dia langsung ingin istirahat karena kelelahan. Karena saya belum merasa ngantuk, saya ke ruangan tamu untuk nonton tv, sedangkan dia masuk kamar tidur tamu untuk istirahat.
Setelah acara yg saya sukai selesai, saya melihat jam, ternyata sudah jam 1 pagi, tiba-tiba muncul ide isengku untuk memasuki kamar tidur Irene, dengan perlahan-lahan saya berjalan mendekati pintu kamarnya, ternyata tidak dikunci, saya masuk dan melihat Irene telentang dengan kedua lengan dan paha terbuka, saya langsung mengambil tali plastik dan perlahan-lahan saya melucuti pakaiannya semua, mungkin karena dia terlalu lelah sehingga tidurnya sangat nyenyak sampai tidak tahu apa yg sedang saya lakukan, setelah semua pakaiannya kubuka, saya langsung mengikat lengan dan kakinya ke sudut-sudut ranjang.
Tiba-tiba dia terbangun, dan terkejut karena tubuhnya telah telanjang polos dan terikat di ranjang. "Ko lepasin saya", suaranya gemetaran karena shock. "Cepat lepasin Ko!" Irene mengulangi perintahnya, kali ini lebih keras suaranya. Tubuh telanjangnya telah mambiusku. Aku segera mencopot celana dan celana dalamku dengan cepat. "Ko!" Irene memekik. "Mau ngapain kamu?" Irene terkesiap melihat batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Kusentuh payudaranya dengan kedua tanganku, rasanya dingin bagai seonggok daging.
"Koko gila luu yah!" Aku merasakan sensasi aneh melihat payudara dan liang kemaluan adik pacarku ini. Jelas beda dengan waktu-waktu dulu kalau mengintip dia ganti baju di kamarnya. Sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. "Koko, gua khan adik Wiwi!" Aku menyentuh liang kemaluannya dengan tanganku, lalu menjilatinya.
Setelah puas segera kuletakkan batang kemaluanku di gerbang liang kemaluan Irene. "Ko jangaaan!" dia memohon-mohon padaku. "Diam.. cerewet!" aku menjawab dengan sembarangan. Sekali batang kemaluanku kudorong ke depan, tubuhku sudah menjadi satu dengannya. "Iiiih... shiit!" dia mengumpat tapi ada nada kegelian dari suaranya itu. Aku menggoyangkan pinggangku secara liar hingga batang kemaluanku mengocok-kocok liang kemaluannnya. "Ahh... shiit! ah shiiit! Ko stop!" Semakin dia mamaki dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, semakin terangsang aku jadinya.
Sambil memompa liang kemaluannya aku menghisap puting-puting payudaranya yang agak berwarna pink itu. "Mmmh.. udah jangan Ko!" Irene masih berteriak-teriak memintaku berhenti. "Lu diam aja jangan banyak ngomong", ujarku cuek. "Ohh shiit!" ujarnya mengumpat. Dia menatapku dengan tatapan yang bercampur antara kemarahan dan kegelian yang ditahan. Sejenak aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku melihatnya terikat seperti ini. Dengan menggunakan cutter yang tergeletak di meja samping ranjang aku memotong tali yang mengikat kedua kakinya. Begitu kedua kakinya terlepas dia sempat berontak. Tapi apa dayanya dengan posisi telentang dengan tangan masih terikat. Belum lagi posisiku yang sudah mantap di antara kedua kakinya membuat dia hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-nendang tanpa hasil. "Aaahh Ko stop dong... udah Ko.. gue khan adik Wiwi", dia memohon lagi tapi kali ini suaranya tidak kasar lagi dan terdengar mulai berdesah karena geli. Nafasnya pun mulai memburu. Aku menjilati lehernya dia melengos ke kiri dan ke kanan tapi wajahnya mulai tidak mampu menutupi rasa geli dan nikmat yang kuciptakan. " Aduhh sshhh Ko udah dooong.. hhh.. sssh!" suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih. Kedua kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan tendangannya bukan karena berontak melainkan menahan rasa geli dan nikmat.
Aku menaikkan tempo dalam memompa sehingga tubuhnya semakin bergetar setiap kali batang kemaluanku menusuk ke dalam liang kemaluannya yang hangat berulir serta kian basah oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu. Kali ini suara nafas Irene kian berat dan memburu, "Uh.. uh.. uhhffssh.. shiit Kooo.. agh uufffssshhh u.. uhhh!" Wajahnya semakin memerah, sesekali dia memejamkan matanya sehingga kedua alisnya seperti bertemu. Tapi tiap kali dia begitu atau saat dia merintih nikmat, selalu wajahnya dipalingkan dariku. Pasti dia malu padaku. Liang kemaluannya mulai mengeras seperti memijit batang kemaluanku. Pantatnya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan batang kemaluanku keluar masuk liang kenikmatannya yang sudah basah total. Saat itu aku berbisik "Gimana, lu mau udahan?" Aku menggodanya. Sambil mengatur pernafasan dan dengan ekspresi yang sengaja dibuat serius, dia berkata, "I.. iiya.. udah.. han yah Ko", suaranya dibuat setegas mungkin tapi matanya yang sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sudah sangat menikmati permainanku ini. "Masa?" godaku lagi sambil tetap batang kemaluanku memompa liang kemaluannya yang semakin basah sampai mengeluarkan suara agak berdecak-decak. "Bener nih lu mau udahan?" godaku lagi. Tampak wajahnya yang merah padam penuh dengan peluh, nafasnya berat terasa menerpa wajahku. "Jawab dong, mau udahan gak?" aku menggodanya lagi sambil tetap menghujamkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya.
Sadar aku sudah berkali-kali bertanya itu, dia dengan gugup berusaha menarik nafas panjang dan menggigit bibir bagian bawahnya berusaha mengendalikan nafasnya yang sudah ngos-ngosan dan menjawab, "Mmm... iya.. hmmm." Aku tiba-tiba menghentikan gerakan naik turunku yang semakin cepat tadi. Ternyata gerakan pantatnya tetap naik turun, tak sanggup dihentikannya. Soalnya liang kemaluannya sudah semakin berdenyut dan menggigit batang kemaluanku. "Ehmmm!" Irene terkejut hingga mengerang singkat tapi tubuhnya secara otomatis tetap menagih dengan gerakan pantatnya naik turun. Ketika aku bergerak seperti menarik batang kemaluanku keluar dari liang kemaluannya, secara refleks tanpa disadari olehnya, kedua kakinya yang tadinya menendang-nendang pelan, tiba-tiba disilangkan sehingga melingkar di pinggangku seperti tidak ingin batang kemaluanku lepas dari lubang kemaluannya.
"Lho katanya udahan", kata-kataku membuat Irene tidak mampu berpura-pura lagi.
Mukanya mendadak merah padam dan setengah tersipu dia berbisik, "Ah shiiit Kooo... uhh... uhhh.. swear enak banget... pleasee dong terusiiin yeeass!" belum selesai ia berkata aku langsung kembali menggenjotnya sehingga ia langsung melenguh panjang. Rupanya perasaaan malunya telah ditelan kenikmatan yang sengaja kuberikan kepadanya. "Ah iya.. iiiya.. di situ mmmhhh aaah!" tanpa sungkan-sungkan lagi dia mengekspresikan kenikmatannya. Selama 15 menit berikutnya aku dan dia masih bertempur sengit. Tiga kali dia orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat kerena bersamaan dengan saat aku ejakulasi. Spermaku menyemprot kencang sekali bertemu dengan semburan-semburan cairan kenikmatannya yang membanjir. Irine pasti melihat wajahku yang menyeringai sambil tersenyum puas. Senyum kemenangan.
Aku melepaskan ikatannya. Dia kemudian duduk di atas kasur. Sesaat dia seperti berusaha menyatukan pikirannya.
"Huuhh, kamu hebat banget sih Ko, sering yach melakukan dengan Wiwi"
"Enggak juga koq!
"Alah, sama setiap cewek yang kamu tidurin juga jawabannya pasti sama"
Keperawanan lu kapan diambil? tanyaku
Sewaktu pacarku ingin pergi ke Amerika untuk kuliah, saya hadiahkan sebagai hadiah perpisahan
Kemudian dia bangkit dengan tubuh yg lemah ngeloyor ke kamar mandi, setelah selesai bersih-bersih Irene kembali lagi ke kamar.
Di depan pintu kamar mandi kusergap dia, kuangkat satu pahanya dan kutusuk sambil berdiri. "Aduh kok ganas banget sih Lu!" katanya setengah membentak. Aku tidak mau tahu, kudorong dia ke dinding kuhajar terus vaginanya dengan rudalku. Mulutnya kusumbat, kulumat dalam-dalam. Setelah Irene mulai terdengar lenguhannya, kugendong dia sambil pautan penisku tetap dipertahankan. Kubawa dia ke meja, kuletakkan pantatnya di atas meja itu. Sekarang aku bisa lebih bebas bersenggama dengan dia sambil menikmati payudaranya. Sambil kuayun, mulutku dengan sistematis menjelajah bukit di dadanya, dan seperti biasanya, dia tekan belakang kepalaku ke dadanya, dan aku turuti, habis emang nikmat dan nikmat banget. "aahh.... ssshh.... oohh.... uuuuggghh.... mmhh", Irene terus meracau.
Bosen dengan posisi begitu kucabut penisku dan kusuruh Irene menungging. Sambil kedua tangannya memegang bibir meja. Dalam keadaan menungging begitu Irene kelihatan lebih aduhai! Bongkahan pantatnya yang kuning dan mulus itu yang bikin aku tidak tahan. Kupegang penisku dan langsung kuarahkan ke vaginanya. Kugesekkan ke clitorisnya, dan dia mulai mengerang nikmat. Tidak sabar kutusukkan sekaligus. Langsung kukayuh, dan dalam posisi ini Irene bisa lebih aktif memberikan perlawanan, bahkan sangat sengit. "Aahh Kooo Akuuu mmooo.. kkeeelluuarr lagggi..." racaunya. Irene goyangannya menggila dan tidak lama tangan kanannya menggapai ke belakang, dia tarik pantatku supaya menusuk lebih keras lagi. Kulayani dia, sementara aku sendiri memang terasa sudah dekat. Irene mengerang dengan sangat keras sambil menjepit penisku dengan kedua pahanya. Saya tetap dengan aksiku. Kuraih badannya yang kelihatan sudah mulai mengendur. Kupeluk dari belakang, kutaruh tanganku di bawah payudaranya, dengan agak kasar kuurut payudaranya dari bawah ke atas dan kuremas dengan keras. "Eengghh.... oohh.... ohh.... aahh", tidak lama setelah itu bendunganku jebol, kutusuk keras banget, dan spermaku menyemprot lima kali di dalam.
Dengan gontai kuiring Irene kembali ke ranjang, sambil kukasih cumbuan-cumbuan kecil sambil kami tiduran. Dan ketika kulihat jam di dinding menunjukan jam 02.07. Wah lumayan, masih ada waktu buat satu babak lagi, kupikir. "rine, vagina dan permainan kamu ok banget!" pujiku. "Makasih juga ya Ko, kamu juga hebat", suatu pujian yang biasa kuterima!
Sabtu, 23 Februari 2013
Pemerkosaan prita
Kita semua mengetahui di daerah Papua sekarang sedang terjadi suatu kegitan yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itulah maka sebuah stasiun televisi swasta mengirim seorang presenternya untuk meliput dari dekat kegiatan dari organisasi Papua Merdeka yang dipimpin oleh seorang Papua yang bernama Weweko. Untuk itu sebagai reporter ditunjuk Prita yang dikenal bagus dalam wawancara ditambah telah berpengalaman. Karena ditugaskan oleh Dewan Redakturnya maka Prita yang saat itu sedang menikmati bulan madunya yang baru 1 bulan tidak dapat mengelak, sedang suaminya memang agak keberatan karena Ira harus bertugas di pedalaman Papua selama 1 minggu. Ia khawatir akan keselamatan istrinya yang baru 1 bulan dinikahinya, namun karena tidak ingin menghambat karir istrinya dengan terpaksa Dono mengijinkannya.
Setibanya di bandara Timika Papua, Ari dijemput oleh rekan krunya. Dari bandara mereka langsung menuju hotel dan mempersiapkan peralatan yang akan mereka bawa. Dari hotel, keesokan harinya rekan Prita dijemput dengan sebuah mobil dan langsung berangkat ke tempat yang telah mereka rencanakan. Rombongan tersebut terdiri dari 1 orang kru kantor, dan satu orang lagi penunjuk jalan ditambah dengan Prita sendiri.
Setibanya di tempat tujuan, kru tersebut harus menyeberangi sungai yang amat deras dan dalam mempergunakan sebuah perahu. Ketika sampai di seberang sungai mereka harus berjalan kaki lagi selama 5 jam dari tempat itu, perjalanan itu melewati hutan pedalaman yang amat besar. Di tempat yang telah disepakati dengan OPM tersebut mereka menunggu dengan sangat khawatir sebab mereka telah terlebih dahulu tiba. Kurang lebih 1 jam menunggu, para OPM tersebut datang dengan pasukannya lengkap. Di dalam gubuk yang telah disediakan, Prita diperkenalkan dengan Weweko yang memimpin pasukan pemberontak tersebut, namun mereka terlebih dahulu digeledah peralatannya tidak terkecuali pakaian Prita mereka geledah. Ini adalah tahap pertama Prita mengalami pelecehan sexual dengan nakal. Para tentara OPM menggerayangi pakaian dan anggota tubuhnya dengan kasar. Hal ini membuat Prita agak sedikit takut dan menyalahkan dirinya sendiri yang ia akui hanya ia sendiri yang wanita dalam rombonggan itu. Prita agak bergidik ketakutan jika melihat sorot mata Weweko, sebab saat bersalaman tadi mata Weweko tidak jauh dari memandang daerah sensitif tubuhnya, ditambah para pengawal yang sangat sadis kelihatannya.
setelah wawancara dilalukan selama 1 jam, teman-teman Prita disuruh pulang ke tempat semula dengan mata ditutup tidak terkecuali Prita. Sambil senjata ditodongkan ke arahnya para teman Prita bergerak keluar daerah pertemuan. Prita dibawa ke dalam hutan tanpa sepengetahuannya karena matanya ditutup. Di dalam hutan belantara itu Weweko menggiring Prita sampai di tendanya yang dikawal ratusan pasukan OPM. Sebagai pimpinan ia amat berkuasa dan ditakuti anak buahnya. Setibanya di tenda, Weweko memerintahkan anak buahnya untuk membuka penutup mata Prita. Dengan kaget bercampur takut Prita bertanya mengenai teman-temannya namun dengan santai Weweko mengatakan bahwa Prita akan mereka tawan sebagai sandera, Prita sadar bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan Weweko dengan terpisahnya ia dari temannya.
"Mau diapakan saya!" tanya Prita galak. Prita berteriak keras.
Dengan senyum menakutkan, Weweko berkata, "Sebaiknya nona diam dan menuruti kemauan saya... sekarang kamu adalah milik saya dan saya berkuasa atas diri nona. Tidak seorangpun mampu membebaskan nona dari hutan papua ini."
"Sudah lama saya tidak mencicipi tubuh wanita apalagi secantik nona... Apakah nona mau jadi istri saya?" kata Weweko kemudian.
Cerita Dewasa Pemerkosana Prita Prita bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan kebuasan pria Papua ini dalam bercinta. Jika ia diperkosa sudah pasti ia tidak dapat melepaskan diri. Ia hanya diam dan memandang sosok Weweko yang tinggi, hitam, bau dan menjijikan nalurinya. Ia terbayang bagaimana buasnya Weweko menggagahinya jika itu terjadi. Ia masih ingat pesan suaminya, namun nasi telah menjadi bubur, ia telah jatuh ke tangan OPM. Prita hanya diam duduk dalam keremangan malam yang dingin di dalam tenda yang hanya beralaskan bulu hariamau. Sementara di luar tenda ia melihat para pengawal Weweko dan Weweko sedang berpesta pora dengan menikmati daging babi panggang dan meminum arak. Mereka bernyanyi sepuasnya. Berbeda dengan Prita, di dalam tenda ia hanya diam dan merasakan dinginnya malam di hutan Papua yang terkenal ganas dan dingin itu. Sesaat kemudian datanglah Weweko membawa makanan untuk Prita juga minuman untuk menghangatkan badan, namun Prita hanya memakan sedikit daging ikan. Ia tidak menyukai daging babi, ia tidak terbiasa makan babi, namun atas paksaan Weweko ia akhirnya memakannya juga. Ia juga meminum arak sedikit supaya badannya hangat. Sedang ia dari tadi merasakan dinginnya hutan Papua sampai ketulangnya dan membuat Prita menggigil.
Dengan mata berbinar, Weweko mendekati Prita dan berusaha memegang dagunya, namun dikibaskan oleh Prita. Saat itu, Weweko hanya memakai Koteka dan muka dicat seperti pakaian tradisional Papua, sedang di bagian vitalnya yang panjang hanya ditutupi penutup seadanya, seakan ia akan mengadakan hubungan sexual.
"Jangan marah manis?" Weweko berujar.
"Alangkah asyiknya jika malam yang dingin ini kita berbagi kehangatan dan saling memberi kemesraan." katanya.
"Cis!" Prita meludah.
"Tidak sudi aku bermesraan dengan kamu, biadap!" katanya.
Dengan senyum simpul sambil menjilat ludah yang dibuang Prita tadi, Weweko berusaha memeluk dan menaklukan Prita. Bau tubuh Weweko membuat Prita ingin muntah, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan.
Di dalam tenda itu hanya ada ia dan Weweko. Dengan paksa Weweko membuka baju kemeja Prita dengan robekan di dadanya sehingga tersembul dada montok yang putih tertutup BH. Ini membuat Weweko semakin berusaha untuk menaklukan Prita. Dengan tangannya Prita memalangkan tangannya pada dada yang terbuka itu. Payudara yang montok itu tidak bisa ditutupi seluruhnya. Sambil memegang tangan dan memeluknya, Prita akhirnya menyerah dalam pelukan Weweko. Tidak ada yang terucap dari bibirnya, ia hanya diam, pasrah menanti apa yang akan terjadi. Dengan sekali sentak Prita ditelentangkan di atas bulu alas tenda itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan Weweko ia terus menjelajahi dada dan bibir Prita dengan buas. Inchi demi inchi tidak luput dari perhatian Weweko ia terus memburu setiap sudut di tubuh Prita. Saat itu BH Prita telah tanggal dari tempatnya. Dengan tangannya, Weweko berusaha memilin dan menggigit ujung dari susu Prita, membuat Prita hanya menutup matanya, ia tidak sanggup melihat apa yang dikerjakan Weweko atas tubuhnya. Secara naluri seks, birahinya mulai bangkit ditambah udara malam yang begitu dingin.
Sejurus kemudian, celana jeans Prita dibuka Weweko dan terpampanglah batang paha mulus yang di tengahnya ditutupi segitiga pengaman berwarna merah. Langsung saja tangan Weweko menggusur CD Prita itu dan dengan jari-jarinya yang besar dan kasar, ia masukkan ke dalam lubang kewanitaan Prita. Sementara itu mulut Weweko tidak beranjak dari dada Prita. Dengan naluri binatangnya Weweko melebarkan kaki Prita dan terkuaklah belahan kewanitaan Prita yang ditumbuhi bulu dengan daging kecil di belahan itu.
Goa itu mulai basah oleh tingkah laku jari tangan Weweko, dan tidak lama kemudian dengan lidahnya Weweko mejilat daging kecil itu selama 15 menit. Secara tiba-tiba mulut Weweko disemprot oleh air mani Prita dan tertelan oleh Weweko. Inilah saat bagi pria Papua yang ditunggu-tunggu. Apabila sampai menelan air mani wanita maka ia akan menambah keperkasaannya. Dengan merubah posisi, Weweko membuka penutup batang kemaluannya yang terbuat dari tumbuhan itu maka terlihatlah kelaminnya yang panjang dan besar tersebut. Ia bersiap-siap untuk memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Prita, namun Prita yang sudah orgasme harus ia ransang dulu dengan memilin payudara dan mengorek-ngorek isi lubang kemaluannya dulu.
Tidak lama kemudian, Prita telah teransang, barulah Weweko memasukan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan sempit itu.
"Nona harus mencoba punya saya, jangan coba curang, ya?" kata Weweko dengan kasar.
Prita yang sudah tidak mengerti dengan keadaan dirinya hanya menurut dan seluruh batang kemaluan Weweko telah masuk kedalam mulutnya dan mencoca menjilatnya dengan gerakan maju mundur. Tidak kurang dari 14 menit, barulah Weweko menyemprotkan maninya ke mulut Prita. Prita diharuskan menelannya karena sesuai kepercayaan Papua, apabila seorang wanita telah menelan mani prianya, maka wanita itu akan sulit melepaskan diri dari pria Papua yang menyenggamainya. Beberapa saat setelah Weweko berusaha kembali merubah arah dan posisi mereka, yang saat itu telah berhadap-hadapan dengan tubuh penuh keringat, kedua insan dua ras tersebut berusaha menyudahi perjalanan kenikmatan ragawinya pada tahap akhir.
Dengan terlebih dahulu Weweko memegang kendali, Weweko memancing birahi Prita. Prita teransang dan penetrasi tahap akhir akan dilakukan. Dengan menelentangkan tubuh Prita di atas bulu itu, kedua paha Prita ia buka dan di pinggulnya Weweko meletakan buntalannya sehingga terlihat isi kemaluan Prita. Kedua kaki Prita diangkat ke bahu Weweko yang bidang. Saat itu batang kemaluan Weweko tegak menghadap ke lubang kemaluan Prita yang dengan supernya ingin mengaduk-aduk isi lubang kemaluan Prita. Beberapa saat kemudian, dengan sedikit paksa, batang kemaluan Weweko masuk sebagian ke dalam lubang kemaluan itu. Beberapa saat kemudian, ia tembakkan langsung dengan ganas, memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam lubang kemaluan itu. Prita sempat kesakitan dan air matanya keluar, namun mulutnya telah ditutupi oleh bibir Weweko.
Sementara itu tangan Weweko memegang pantat Prita supaya selama ia bergerak tidak terlepas. Ia khawatir Prita akan mengeluarkan batang kemaluannya dari lubang kemaluannya saat Prita kesakitan. Prita hanya dapat memegang tangan dan bahu Weweko hingga berdarah tercakar sebab Prita amat kesakitan akibat gerakan dan gesekan batang kemaluan Weweko mengaduk-aduk lubang kemaluannya. Akhirnya Prita pingsan beberapa saat dan pada saat ia mulai sadar kembali, Weweko melakukan aktifitasnya yang tertunda tadi, kurang lebih 20 menit, ia menggenjot batang kemaluannya keluar masuk lubang kemaluan sempit itu.
Akhirnya ia melepaskan air maninya di dalam lubang kemaluan Prita sebanyak-banyaknya. Ia tidak memperdulikan kesakitan bagi Prita. Yang ada pada dirinya adalah agar kepuasanya terpenuhi karena ia sudah berbulan bulan tidak merasakan tubuh wanita.
Sampai pada pagi harinya, Weweko terus berusaha memuaskan nafsunya kepada tubuh Prita yang tidak berdaya itu beberapa kali. Sampai pada akhirnya, pada saat pelariannya, Weweko selalu mengikut-sertakan Prita di dalam hutan Papua itu, ia menganggap Prita adalah istrinya dan Prita harus mau mengikuti kemauannya baik itu dalam hubungan seksual maupun dalam masalah pelariannya.
Demikian Cerita Dewasa Pemerkosana Prita ,Semoga anda dapat terhibur atas posting kami kali ini.
Setibanya di bandara Timika Papua, Ari dijemput oleh rekan krunya. Dari bandara mereka langsung menuju hotel dan mempersiapkan peralatan yang akan mereka bawa. Dari hotel, keesokan harinya rekan Prita dijemput dengan sebuah mobil dan langsung berangkat ke tempat yang telah mereka rencanakan. Rombongan tersebut terdiri dari 1 orang kru kantor, dan satu orang lagi penunjuk jalan ditambah dengan Prita sendiri.
Setibanya di tempat tujuan, kru tersebut harus menyeberangi sungai yang amat deras dan dalam mempergunakan sebuah perahu. Ketika sampai di seberang sungai mereka harus berjalan kaki lagi selama 5 jam dari tempat itu, perjalanan itu melewati hutan pedalaman yang amat besar. Di tempat yang telah disepakati dengan OPM tersebut mereka menunggu dengan sangat khawatir sebab mereka telah terlebih dahulu tiba. Kurang lebih 1 jam menunggu, para OPM tersebut datang dengan pasukannya lengkap. Di dalam gubuk yang telah disediakan, Prita diperkenalkan dengan Weweko yang memimpin pasukan pemberontak tersebut, namun mereka terlebih dahulu digeledah peralatannya tidak terkecuali pakaian Prita mereka geledah. Ini adalah tahap pertama Prita mengalami pelecehan sexual dengan nakal. Para tentara OPM menggerayangi pakaian dan anggota tubuhnya dengan kasar. Hal ini membuat Prita agak sedikit takut dan menyalahkan dirinya sendiri yang ia akui hanya ia sendiri yang wanita dalam rombonggan itu. Prita agak bergidik ketakutan jika melihat sorot mata Weweko, sebab saat bersalaman tadi mata Weweko tidak jauh dari memandang daerah sensitif tubuhnya, ditambah para pengawal yang sangat sadis kelihatannya.
setelah wawancara dilalukan selama 1 jam, teman-teman Prita disuruh pulang ke tempat semula dengan mata ditutup tidak terkecuali Prita. Sambil senjata ditodongkan ke arahnya para teman Prita bergerak keluar daerah pertemuan. Prita dibawa ke dalam hutan tanpa sepengetahuannya karena matanya ditutup. Di dalam hutan belantara itu Weweko menggiring Prita sampai di tendanya yang dikawal ratusan pasukan OPM. Sebagai pimpinan ia amat berkuasa dan ditakuti anak buahnya. Setibanya di tenda, Weweko memerintahkan anak buahnya untuk membuka penutup mata Prita. Dengan kaget bercampur takut Prita bertanya mengenai teman-temannya namun dengan santai Weweko mengatakan bahwa Prita akan mereka tawan sebagai sandera, Prita sadar bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan Weweko dengan terpisahnya ia dari temannya.
"Mau diapakan saya!" tanya Prita galak. Prita berteriak keras.
Dengan senyum menakutkan, Weweko berkata, "Sebaiknya nona diam dan menuruti kemauan saya... sekarang kamu adalah milik saya dan saya berkuasa atas diri nona. Tidak seorangpun mampu membebaskan nona dari hutan papua ini."
"Sudah lama saya tidak mencicipi tubuh wanita apalagi secantik nona... Apakah nona mau jadi istri saya?" kata Weweko kemudian.
Cerita Dewasa Pemerkosana Prita Prita bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan kebuasan pria Papua ini dalam bercinta. Jika ia diperkosa sudah pasti ia tidak dapat melepaskan diri. Ia hanya diam dan memandang sosok Weweko yang tinggi, hitam, bau dan menjijikan nalurinya. Ia terbayang bagaimana buasnya Weweko menggagahinya jika itu terjadi. Ia masih ingat pesan suaminya, namun nasi telah menjadi bubur, ia telah jatuh ke tangan OPM. Prita hanya diam duduk dalam keremangan malam yang dingin di dalam tenda yang hanya beralaskan bulu hariamau. Sementara di luar tenda ia melihat para pengawal Weweko dan Weweko sedang berpesta pora dengan menikmati daging babi panggang dan meminum arak. Mereka bernyanyi sepuasnya. Berbeda dengan Prita, di dalam tenda ia hanya diam dan merasakan dinginnya malam di hutan Papua yang terkenal ganas dan dingin itu. Sesaat kemudian datanglah Weweko membawa makanan untuk Prita juga minuman untuk menghangatkan badan, namun Prita hanya memakan sedikit daging ikan. Ia tidak menyukai daging babi, ia tidak terbiasa makan babi, namun atas paksaan Weweko ia akhirnya memakannya juga. Ia juga meminum arak sedikit supaya badannya hangat. Sedang ia dari tadi merasakan dinginnya hutan Papua sampai ketulangnya dan membuat Prita menggigil.
Dengan mata berbinar, Weweko mendekati Prita dan berusaha memegang dagunya, namun dikibaskan oleh Prita. Saat itu, Weweko hanya memakai Koteka dan muka dicat seperti pakaian tradisional Papua, sedang di bagian vitalnya yang panjang hanya ditutupi penutup seadanya, seakan ia akan mengadakan hubungan sexual.
"Jangan marah manis?" Weweko berujar.
"Alangkah asyiknya jika malam yang dingin ini kita berbagi kehangatan dan saling memberi kemesraan." katanya.
"Cis!" Prita meludah.
"Tidak sudi aku bermesraan dengan kamu, biadap!" katanya.
Dengan senyum simpul sambil menjilat ludah yang dibuang Prita tadi, Weweko berusaha memeluk dan menaklukan Prita. Bau tubuh Weweko membuat Prita ingin muntah, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan.
Di dalam tenda itu hanya ada ia dan Weweko. Dengan paksa Weweko membuka baju kemeja Prita dengan robekan di dadanya sehingga tersembul dada montok yang putih tertutup BH. Ini membuat Weweko semakin berusaha untuk menaklukan Prita. Dengan tangannya Prita memalangkan tangannya pada dada yang terbuka itu. Payudara yang montok itu tidak bisa ditutupi seluruhnya. Sambil memegang tangan dan memeluknya, Prita akhirnya menyerah dalam pelukan Weweko. Tidak ada yang terucap dari bibirnya, ia hanya diam, pasrah menanti apa yang akan terjadi. Dengan sekali sentak Prita ditelentangkan di atas bulu alas tenda itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan Weweko ia terus menjelajahi dada dan bibir Prita dengan buas. Inchi demi inchi tidak luput dari perhatian Weweko ia terus memburu setiap sudut di tubuh Prita. Saat itu BH Prita telah tanggal dari tempatnya. Dengan tangannya, Weweko berusaha memilin dan menggigit ujung dari susu Prita, membuat Prita hanya menutup matanya, ia tidak sanggup melihat apa yang dikerjakan Weweko atas tubuhnya. Secara naluri seks, birahinya mulai bangkit ditambah udara malam yang begitu dingin.
Sejurus kemudian, celana jeans Prita dibuka Weweko dan terpampanglah batang paha mulus yang di tengahnya ditutupi segitiga pengaman berwarna merah. Langsung saja tangan Weweko menggusur CD Prita itu dan dengan jari-jarinya yang besar dan kasar, ia masukkan ke dalam lubang kewanitaan Prita. Sementara itu mulut Weweko tidak beranjak dari dada Prita. Dengan naluri binatangnya Weweko melebarkan kaki Prita dan terkuaklah belahan kewanitaan Prita yang ditumbuhi bulu dengan daging kecil di belahan itu.
Goa itu mulai basah oleh tingkah laku jari tangan Weweko, dan tidak lama kemudian dengan lidahnya Weweko mejilat daging kecil itu selama 15 menit. Secara tiba-tiba mulut Weweko disemprot oleh air mani Prita dan tertelan oleh Weweko. Inilah saat bagi pria Papua yang ditunggu-tunggu. Apabila sampai menelan air mani wanita maka ia akan menambah keperkasaannya. Dengan merubah posisi, Weweko membuka penutup batang kemaluannya yang terbuat dari tumbuhan itu maka terlihatlah kelaminnya yang panjang dan besar tersebut. Ia bersiap-siap untuk memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Prita, namun Prita yang sudah orgasme harus ia ransang dulu dengan memilin payudara dan mengorek-ngorek isi lubang kemaluannya dulu.
Tidak lama kemudian, Prita telah teransang, barulah Weweko memasukan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan sempit itu.
"Nona harus mencoba punya saya, jangan coba curang, ya?" kata Weweko dengan kasar.
Prita yang sudah tidak mengerti dengan keadaan dirinya hanya menurut dan seluruh batang kemaluan Weweko telah masuk kedalam mulutnya dan mencoca menjilatnya dengan gerakan maju mundur. Tidak kurang dari 14 menit, barulah Weweko menyemprotkan maninya ke mulut Prita. Prita diharuskan menelannya karena sesuai kepercayaan Papua, apabila seorang wanita telah menelan mani prianya, maka wanita itu akan sulit melepaskan diri dari pria Papua yang menyenggamainya. Beberapa saat setelah Weweko berusaha kembali merubah arah dan posisi mereka, yang saat itu telah berhadap-hadapan dengan tubuh penuh keringat, kedua insan dua ras tersebut berusaha menyudahi perjalanan kenikmatan ragawinya pada tahap akhir.
Dengan terlebih dahulu Weweko memegang kendali, Weweko memancing birahi Prita. Prita teransang dan penetrasi tahap akhir akan dilakukan. Dengan menelentangkan tubuh Prita di atas bulu itu, kedua paha Prita ia buka dan di pinggulnya Weweko meletakan buntalannya sehingga terlihat isi kemaluan Prita. Kedua kaki Prita diangkat ke bahu Weweko yang bidang. Saat itu batang kemaluan Weweko tegak menghadap ke lubang kemaluan Prita yang dengan supernya ingin mengaduk-aduk isi lubang kemaluan Prita. Beberapa saat kemudian, dengan sedikit paksa, batang kemaluan Weweko masuk sebagian ke dalam lubang kemaluan itu. Beberapa saat kemudian, ia tembakkan langsung dengan ganas, memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam lubang kemaluan itu. Prita sempat kesakitan dan air matanya keluar, namun mulutnya telah ditutupi oleh bibir Weweko.
Sementara itu tangan Weweko memegang pantat Prita supaya selama ia bergerak tidak terlepas. Ia khawatir Prita akan mengeluarkan batang kemaluannya dari lubang kemaluannya saat Prita kesakitan. Prita hanya dapat memegang tangan dan bahu Weweko hingga berdarah tercakar sebab Prita amat kesakitan akibat gerakan dan gesekan batang kemaluan Weweko mengaduk-aduk lubang kemaluannya. Akhirnya Prita pingsan beberapa saat dan pada saat ia mulai sadar kembali, Weweko melakukan aktifitasnya yang tertunda tadi, kurang lebih 20 menit, ia menggenjot batang kemaluannya keluar masuk lubang kemaluan sempit itu.
Akhirnya ia melepaskan air maninya di dalam lubang kemaluan Prita sebanyak-banyaknya. Ia tidak memperdulikan kesakitan bagi Prita. Yang ada pada dirinya adalah agar kepuasanya terpenuhi karena ia sudah berbulan bulan tidak merasakan tubuh wanita.
Sampai pada pagi harinya, Weweko terus berusaha memuaskan nafsunya kepada tubuh Prita yang tidak berdaya itu beberapa kali. Sampai pada akhirnya, pada saat pelariannya, Weweko selalu mengikut-sertakan Prita di dalam hutan Papua itu, ia menganggap Prita adalah istrinya dan Prita harus mau mengikuti kemauannya baik itu dalam hubungan seksual maupun dalam masalah pelariannya.
Demikian Cerita Dewasa Pemerkosana Prita ,Semoga anda dapat terhibur atas posting kami kali ini.
Anak kost
Aku sudah dua bulan putus dengan pacarku, selama itu pulalah aku tidak dijamah pria. Malam mimggu ini aku sendiri lagi. Kuputuskan untuk main ke sekretariat Mapala di kampusku yang biasanya ada yang menunggu 24 jam. Aku bukan anggota, tapi kenal beberapa orang. Disana sepi, hanya ada Mas Putra yang tengah asyik nonton TV. Setelah saling menyapa, kami menonton sambil mengobrol.
“Kok nggak ngapelin Mbak Rosa, Mas..?” tanyaku.
“Nggak, lagi boring ketemu dia terus.”
“Lo kok..? Kan pacar..?”
“Iya sih, tapi lagi pengen ganti suasana aja.”
“Dia nggak marah nih, nggak ngapel..?”
“Nggak, kita lagi berantem kok!”
“Napa..?”
“Rahasia dong.”
“Paling urusan sex.” kataku asal tebak.
“Lo, kok tau..?” tanyanya heran.
“Tau dong..,” jawabku, padahal aku hanya iseng saja asal tebak.
Jangan heran, kalau mengobrol soal sex dengan anak-anak Mapala ini sudah biasa, pada ‘bocor’ dan ‘kocak’ semua.
“Emang napa sih, dia nggak bisa muasin yah..?” tanyaku sambil tertawa terbahak-bahak.
Mas Putra melotot. “Nggak juga, dia malah nggak bisa ngapa-ngapain, kalo dicium diem aja, kalo udah mo ngebuka bajunya, dia langsung berontak.” kulihat sorot mata kesal.
“O, gitu..”
“Lagian, payudaranya kecil banget..!” katanya.
Aku tertawa lagi. “Impas kan, punya Mas juga kecil,”
“Enak aja, mau liat..?!” tantangnya.
Aku tertawa, walaupun ingin juga. Sebenarnya aku naksir tubuhnya saja, atletis, kulit coklat, dada bidang. Dia paling suka panjat tebing, dan aku sudah pernah melihat dia mandi di pantai. Cool.
“Boleh..,” tantangku balik.
“Oke, tapi kamu juga tunjukin payudara kamu, gimana..? Kan impas.”
Aku terdiam sejenak. Tapi aku berpikir, why not, tidak ada ruginya.
“Oke,” jawabku, “Mas duluan ok..!”
Dia menatapku tajam sambil berlutut, membuka reslueting celana jeans-nya pelan hingga terlihat CD yang membalut penisnya yang sudah menegang.
“Sekarang kamu..!” perintahnya.
“Lo kok..?” kataku bingung.
“Satu persatu, biar fair..,”
“Oke.”
Aku membuka sweater cardiganku yang melapisi tank top yang kupakai. Tanpa kata-kata dia menurunkan jeans-nya sebatas lutut. Aku membalas dengan menaikkan tank top-ku sebatas leher hingga memperlihatkan payudaraku yang dibalut bra. Mas Putra tidak langsung membuka CD-nya, tapi malah mengelus-elus penisnya yang menegang. Aku benar-benar terangsang dan membalas mengelus-elus payudaraku. Pelan dia menurunkan CD-nya, memperlihatkan kepala penisnya yang coklat, kemudian batangnya yang lumayan besar untuk ukuran orang Indonesia. Aku tidak kuasa menahan dengusan nafasku, begitu juga dengan Mas Putra. Aku menaikkan bra-ku pelan yang memperlihatkan payudaraku berputing merah dan kenyal.
Sejenak kami berpandangan, masing-masing tangan memegang payudara dan penis. Tanpa dikomando, Mas Putra perlahan mendekat, aku diam saja. Kepalanya dicondongkan ke arah payudaraku. Tangannya memegang bahuku pelan. Kemudian dia mengecup payudaraku pelan, mengulum. Aku menggelinjang pelan. Tanganku meremas kepalanya. Tangan dan bibirnya makin binal, mengecup dan mengulum payudaraku, meremas sebelahnya. Mendadak aku sadar kalau ini di sekretariat, banyak orang bisa berdatangan kapan saja. Aku melepaskan cumbuannya, dia memandangku.
“Jangan disini..!” bisikku. Dia mengerti.
“Kamu naik ke lantai 5 perpustakaan, nanti aku menyusul..” perintahnya.
Aku membenahi baju dan beranjak menuju perpustakaan yang tidak jauh dari situ. Di atas aku menunggu 5 menit sampai Mas Putra menyusul dengan membawa sleeping bag 3 buah. Hmm, mungkin biar empuk, pikirku. Dia langsung menggelar sleeping bag jadi tumpuk 3. Aku tetap berdiri sampai dia mendekat. Kami berangkulan pelan. Saling mengulum bibir. Tangan saling menggerayangi. Kutatap matanya tajam sambil tanganku membuka kancing kemejanya satu persatu.
Kuelus dadanya yang bidang sambil membuka kemeja lepas dari tubuhnya. Kuciumi dadanya, putingnya kukulum pelan, dia menggelinjang, mendesah. Kuciumi leher dan beralih ke bibirnya. Kemudian gantian dia yang menarik tank top-ku lepas dari tubuhku, dielusnya payudaraku yang dibalut bra sebelum meraih pengaitnya di belakang. Begitu terlepas, dia langsung mencumbu payudaraku, tangannya yang satu meremas payudaraku yang sebelah, yang satu lagi merogoh celana jeans yang kupakai, membuka kancing dan reslueting, kemudian mengelus-elus vaginaku yang dibalut CD. Aku mendesah pelan.
Cumbuannya makin turun, tangannya kemudian membuka jeans-ku, aku membantu dengan menaikkan kaki. Sambil berdiri, dia mencoba membuka celananya sendiri, aku langsung beranjak mundur dan memandang Mas Putra membuka jeans-nya. Mata kami saling bertatapan. Aku melihat dia membuka jeans-nya, menunduk, dan waktu berdiri aku benar-benar kagum dengan kejantanan tubuhnya yang macho.
Kami saling berangkulan lagi. Kali ini dia mengangkat tubuhku sambil menciumi bibirku. Aku memeluk bahunya. Direbahkannya tubuhku di sleeping bag yang digelar. Kemudian dia merangkulku pelan, saling berpagutan. Dia mencumbu leherku, terus turun ke payudara, meninggalkan cupangan disana. Tangannya aktif di vaginaku, kali ini tidak lagi di luar CD tapi sudah berada di dalam. Aku benar-benar menikmati elusannya. Klirotisku dimainkan dengan lembut, payudaraku dikulum pelan. Akhirnya dia menarik CD-ku, aku membantu dengan mengangkat pantat.
Pelan dia memainkan lidahnya di vaginaku, menjilat, mengulum, aku mendesah tidak karuan. Dia memelukku dan menarik tubuhku. Kami duduk berhadapan, kaki saling menyilang, saling memeluk, mengulum bibir, meremas payudara. Aku meraih penisnya dan mengelus-elus pelan, sambil dia mencumbu leher dan bibirku. Kutidurkan badannya, dan aku di atas. Kubuka CD-nya sedikit hingga penisnya kelihatan, aku mengarahkan vaginaku dan menggesek-gesekkannya disana, tanpa penetrasi, payudaraku diraihnya dan diremas-remas.
Aku duduk di atas pahanya, mengarahkan vaginaku di penisnya, kuraih penisnya dan menggosok-gosokkan kepalanya di vaginaku, memainkan klirotisku dengan penisnya. Aku takut untuk penetrasi karena masih perawan. Dengan begini saja aku sudah menikmati. Kupeluk tubuhnya dan terus menggesekkan vaginaku di penisnya. Kuciumi leher terus turun ke dada, pantatku terus bergoyang, sampai aku merasa tubuhku menegang dan akan mencapai klimaks. Mas Putra meraih payudaraku dan mendekapku sambil membalas goyanganku, aku menjerit tertahan waktu klimaks. Kupeluk Mas Putra dengan tubuh berkeringat dan lemas.
Dia bangun dan mendekapku sambil merebahkan tubuhku lagi. Pelan dia membuka CD-nya, kulihat penisya coklat menegang hebat. Dia memelukku pelan sambil mencumbu dan meremas. Tapi aku mencoba bangun dan menolak cumbuan MAs Putra. Dia mengalah, aku segera memunguti pakaianku dan memakainya segera. Aku memang egois. Tanpa basa basi aku langsung turun dan pulang ke kost.
Besoknya dia mengajakku jalan, kami pergi naik motor. Tanpa tujuan yang jelas, habis makan di KFC, Mas Putra mengarahkan motornya keluar kota, ke arah jalan Kaliurang, masuk ke daerah pakem yang lumayan jauh dari Yogya, aku baru kali ini ke daerah ini. Daerah ini lumayan dingin karena daerah dataran tinggi lereng merapi. Aku tidak membawa jaket. Karena kedinginan, aku memeluk Mas Putra agar mendapatkan kehangatan. Kurasakan payudaraku menempel di punggungnya.
Magrib kami sampai di kawasan wisata Mbebeng. Indah sekali dapat melihat siluet merapi dari sini, walaupun dingin menggigit. Sepi.., hanya ada kami berdua di bibir jurang. Tanpa segan aku memeluk Mas Putra untuk mencari kehangatan. Dia membalas merangkulku. Kemudian kami naik agak ke atas, tempat panggung yang sudah rusak karena tidak terawat sambil berangkulan. Pelan-pelan Mas Putra mulai mencium ubun-ubunku. Aku mendongak, dia langsung menyambar bibirku.
Hari sudah gelap, sehingga aman melakukannya di alam terbuka begini. Kami berciuman dengan panas, tangannya berkeliaran di payudaraku. Tanganku memeluk punggungnya. Begitu tiba di belakang panggung, Mas Putra memepetkan tubuhku di dinding dan mencumbuku habis-habisan, sepertinya dia ingin membalas perlakuanku kemarin. Baju kaosku direnggut dari kepala, begitu juga dengan bra. Pelan dicumbunya leher, turun ke payudara dan menaikkan rok yang kupakai. Tangannya meraba-raba vaginaku yang mulai basah. Tanpa komando, dia membuka sendiri kemejanya di depanku pelan-pelan, seolah mau merangsangku.
Dengan menatap mataku, dia melepas satu persatu kancing kemejanya sambil mengelus sendiri puting susunya. Perlahan tangannya turun ke pusar, terus membuka reslueting jeans pelan, merogoh ke dalam CD tanpa mengeluarkan penis. Jujur, aku benar-benar terangsang. Tapi aku masih ingin menikmati permainannya. Pelan dia menurunkan jeans-nya, tinggal CD yang menempel dengan siluet penis menyamping. Perlahan dia mendekat dan mencumbuku lagi, kali ini santai tidak menggebu-gebu lagi seperti tadi.
Aku menikmati setiap sentuhan, dan aku mengerang tanpa malu-malu. CD-ku dilepaskannya dengan mulut tanpa membuka rok yang hanya dinaikkan. Dia membuka CD-nya juga, penisnya tegak menjulang merangsang. Kembali kami saling berangkulan. Terasa denyutan penisnya di perutku. Perlahan dia menaikkan tubuhku ke atas batu, dan membuat tubuh kami sejajar. Terasa penisnya kini menempel di vaginaku sekarang. Hangat. Kali ini aku pasrah kalau dia mau penetrasi. Penisnya hanya digesek-gesekkan di vaginaku sambil mengulum bibirku.
Kemudian dia meraba vaginaku yang sudah basah. Ditatapnya mataku sambil memegang bahu. Kami saling bertatapan lama. Perlahan tangannya mengarahkan penis ke vagianku. Aku memeluk punggungnya sambil terus bertatapan. Kubantu penisnya mencari lubang vaginaku, dia memeluk bahuku, mencium pelan bibirku, dan begitu merasa sudah pas, dia menekan pelan penisnya ke vaginaku. Pelan kepala penisnya terasa menyeruak masuk, aku meremas punggungnya. Terasa nyeri.
Dia menghentikan gerakannya sejenak. Mencumbu bibirku lagi, mengelus punggung dan mencium kupingku. Aku agak tenang, kemudian pelan dia kembali menekan penisnya lebih dalam, aku menggigit bibir, dia menatapku waktu memasukkan lagi penisnya pelan-pelan. Aku mendongak dan menjerit tertahan. Dia berhenti setelah semua penisnya masuk dan mencumbu leherku yang mendongak, aku masih merasa nyeri. Mas Putra mendiamkan penisnya di vaginaku, sementara kami mulai bercumbu lagi.
Setelah aku tenang lagi, pelan dia mulai menggoyangkan pantatnya. Pelan-pelan penisnya keluar masuk di vaginaku. Aku mulai menerima rasa sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gerakan pelan mulai berubah menjadi gerakan liar, kocokan penisnya di vaginaku semakin kencang, aku semakin bergairah, mengerang, menggigit. Kakiku yang kanan mengait di pinggang Mas Putra dibantu tangannya, sementara tanganku memeluk punggungya.
Waktu aku mau klimaks, aku menghentikan goyangan, dan Mas Putra mengerti dan menghentikan kocokannya juga. Kami bercumbu sebentar, menenangkan diri dengan penis tetap menancap di vagina. Aku menawarkan untuk ganti posisi dan Mas Putra menyetujui. Kami sepakat mencoba doggie style. Aku langsung menungging di atas rumput, dan Mas Putra berlutut segera memasukkan penisnya dan mulai mengocok, terasa sensai yang lain lagi. Aku mengerang bebas dan Mas Putra merangkulku dari belakang meremas payudara sambil terus mengocok.
Agak lama aku klimaks, malah gantian Mas Putra yang mau klimaks, tubuhnya menegang dan meracau. Aktifitas langsung berhenti. Kali ini aku aktif mencumbunya, kami duduk berhadapan, kakinya menjulur lurus, aku duduk di atasnya memasukkan vagina ke penis, mengoyang-goyang pelan, akhirnya di merebahkan dirinya di atas rumput. Aku makin leluasa mengocok penisnya di vaginaku. Terasa penetrasi lebih dalam dan dinding vaginaku terasa geli dan nikmat.
Sebelum klimaks, lagi-lagi kami ganti posisi, Mas Putra gantian menindihku dengan gaya konvensional. Kocokannya benar-benar bernafsu dan cepat, aku menggelinjang geli dan membalas setiap gerakan Mas Putra. Kami saling mengerang, menjerit tertahan dengan nafas mendengus sampai tubuhku menegang akan mencapai klimaks. Mas Putra tidak perduli, terus mengocok penisnya, aku menjerit pelan begitu klimaks, memeluk Mas Putra lemas yang terus menggenjot sampai dia pun klimaks. Kami saling berangkulan di atas rumput, tersenyum dengan peluh membanjiri tubuh. Setelah berpakaian kami segera pulang.
“Kok nggak ngapelin Mbak Rosa, Mas..?” tanyaku.
“Nggak, lagi boring ketemu dia terus.”
“Lo kok..? Kan pacar..?”
“Iya sih, tapi lagi pengen ganti suasana aja.”
“Dia nggak marah nih, nggak ngapel..?”
“Nggak, kita lagi berantem kok!”
“Napa..?”
“Rahasia dong.”
“Paling urusan sex.” kataku asal tebak.
“Lo, kok tau..?” tanyanya heran.
“Tau dong..,” jawabku, padahal aku hanya iseng saja asal tebak.
Jangan heran, kalau mengobrol soal sex dengan anak-anak Mapala ini sudah biasa, pada ‘bocor’ dan ‘kocak’ semua.
“Emang napa sih, dia nggak bisa muasin yah..?” tanyaku sambil tertawa terbahak-bahak.
Mas Putra melotot. “Nggak juga, dia malah nggak bisa ngapa-ngapain, kalo dicium diem aja, kalo udah mo ngebuka bajunya, dia langsung berontak.” kulihat sorot mata kesal.
“O, gitu..”
“Lagian, payudaranya kecil banget..!” katanya.
Aku tertawa lagi. “Impas kan, punya Mas juga kecil,”
“Enak aja, mau liat..?!” tantangnya.
Aku tertawa, walaupun ingin juga. Sebenarnya aku naksir tubuhnya saja, atletis, kulit coklat, dada bidang. Dia paling suka panjat tebing, dan aku sudah pernah melihat dia mandi di pantai. Cool.
“Boleh..,” tantangku balik.
“Oke, tapi kamu juga tunjukin payudara kamu, gimana..? Kan impas.”
Aku terdiam sejenak. Tapi aku berpikir, why not, tidak ada ruginya.
“Oke,” jawabku, “Mas duluan ok..!”
Dia menatapku tajam sambil berlutut, membuka reslueting celana jeans-nya pelan hingga terlihat CD yang membalut penisnya yang sudah menegang.
“Sekarang kamu..!” perintahnya.
“Lo kok..?” kataku bingung.
“Satu persatu, biar fair..,”
“Oke.”
Aku membuka sweater cardiganku yang melapisi tank top yang kupakai. Tanpa kata-kata dia menurunkan jeans-nya sebatas lutut. Aku membalas dengan menaikkan tank top-ku sebatas leher hingga memperlihatkan payudaraku yang dibalut bra. Mas Putra tidak langsung membuka CD-nya, tapi malah mengelus-elus penisnya yang menegang. Aku benar-benar terangsang dan membalas mengelus-elus payudaraku. Pelan dia menurunkan CD-nya, memperlihatkan kepala penisnya yang coklat, kemudian batangnya yang lumayan besar untuk ukuran orang Indonesia. Aku tidak kuasa menahan dengusan nafasku, begitu juga dengan Mas Putra. Aku menaikkan bra-ku pelan yang memperlihatkan payudaraku berputing merah dan kenyal.
Sejenak kami berpandangan, masing-masing tangan memegang payudara dan penis. Tanpa dikomando, Mas Putra perlahan mendekat, aku diam saja. Kepalanya dicondongkan ke arah payudaraku. Tangannya memegang bahuku pelan. Kemudian dia mengecup payudaraku pelan, mengulum. Aku menggelinjang pelan. Tanganku meremas kepalanya. Tangan dan bibirnya makin binal, mengecup dan mengulum payudaraku, meremas sebelahnya. Mendadak aku sadar kalau ini di sekretariat, banyak orang bisa berdatangan kapan saja. Aku melepaskan cumbuannya, dia memandangku.
“Jangan disini..!” bisikku. Dia mengerti.
“Kamu naik ke lantai 5 perpustakaan, nanti aku menyusul..” perintahnya.
Aku membenahi baju dan beranjak menuju perpustakaan yang tidak jauh dari situ. Di atas aku menunggu 5 menit sampai Mas Putra menyusul dengan membawa sleeping bag 3 buah. Hmm, mungkin biar empuk, pikirku. Dia langsung menggelar sleeping bag jadi tumpuk 3. Aku tetap berdiri sampai dia mendekat. Kami berangkulan pelan. Saling mengulum bibir. Tangan saling menggerayangi. Kutatap matanya tajam sambil tanganku membuka kancing kemejanya satu persatu.
Kuelus dadanya yang bidang sambil membuka kemeja lepas dari tubuhnya. Kuciumi dadanya, putingnya kukulum pelan, dia menggelinjang, mendesah. Kuciumi leher dan beralih ke bibirnya. Kemudian gantian dia yang menarik tank top-ku lepas dari tubuhku, dielusnya payudaraku yang dibalut bra sebelum meraih pengaitnya di belakang. Begitu terlepas, dia langsung mencumbu payudaraku, tangannya yang satu meremas payudaraku yang sebelah, yang satu lagi merogoh celana jeans yang kupakai, membuka kancing dan reslueting, kemudian mengelus-elus vaginaku yang dibalut CD. Aku mendesah pelan.
Cumbuannya makin turun, tangannya kemudian membuka jeans-ku, aku membantu dengan menaikkan kaki. Sambil berdiri, dia mencoba membuka celananya sendiri, aku langsung beranjak mundur dan memandang Mas Putra membuka jeans-nya. Mata kami saling bertatapan. Aku melihat dia membuka jeans-nya, menunduk, dan waktu berdiri aku benar-benar kagum dengan kejantanan tubuhnya yang macho.
Kami saling berangkulan lagi. Kali ini dia mengangkat tubuhku sambil menciumi bibirku. Aku memeluk bahunya. Direbahkannya tubuhku di sleeping bag yang digelar. Kemudian dia merangkulku pelan, saling berpagutan. Dia mencumbu leherku, terus turun ke payudara, meninggalkan cupangan disana. Tangannya aktif di vaginaku, kali ini tidak lagi di luar CD tapi sudah berada di dalam. Aku benar-benar menikmati elusannya. Klirotisku dimainkan dengan lembut, payudaraku dikulum pelan. Akhirnya dia menarik CD-ku, aku membantu dengan mengangkat pantat.
Pelan dia memainkan lidahnya di vaginaku, menjilat, mengulum, aku mendesah tidak karuan. Dia memelukku dan menarik tubuhku. Kami duduk berhadapan, kaki saling menyilang, saling memeluk, mengulum bibir, meremas payudara. Aku meraih penisnya dan mengelus-elus pelan, sambil dia mencumbu leher dan bibirku. Kutidurkan badannya, dan aku di atas. Kubuka CD-nya sedikit hingga penisnya kelihatan, aku mengarahkan vaginaku dan menggesek-gesekkannya disana, tanpa penetrasi, payudaraku diraihnya dan diremas-remas.
Aku duduk di atas pahanya, mengarahkan vaginaku di penisnya, kuraih penisnya dan menggosok-gosokkan kepalanya di vaginaku, memainkan klirotisku dengan penisnya. Aku takut untuk penetrasi karena masih perawan. Dengan begini saja aku sudah menikmati. Kupeluk tubuhnya dan terus menggesekkan vaginaku di penisnya. Kuciumi leher terus turun ke dada, pantatku terus bergoyang, sampai aku merasa tubuhku menegang dan akan mencapai klimaks. Mas Putra meraih payudaraku dan mendekapku sambil membalas goyanganku, aku menjerit tertahan waktu klimaks. Kupeluk Mas Putra dengan tubuh berkeringat dan lemas.
Dia bangun dan mendekapku sambil merebahkan tubuhku lagi. Pelan dia membuka CD-nya, kulihat penisya coklat menegang hebat. Dia memelukku pelan sambil mencumbu dan meremas. Tapi aku mencoba bangun dan menolak cumbuan MAs Putra. Dia mengalah, aku segera memunguti pakaianku dan memakainya segera. Aku memang egois. Tanpa basa basi aku langsung turun dan pulang ke kost.
Besoknya dia mengajakku jalan, kami pergi naik motor. Tanpa tujuan yang jelas, habis makan di KFC, Mas Putra mengarahkan motornya keluar kota, ke arah jalan Kaliurang, masuk ke daerah pakem yang lumayan jauh dari Yogya, aku baru kali ini ke daerah ini. Daerah ini lumayan dingin karena daerah dataran tinggi lereng merapi. Aku tidak membawa jaket. Karena kedinginan, aku memeluk Mas Putra agar mendapatkan kehangatan. Kurasakan payudaraku menempel di punggungnya.
Magrib kami sampai di kawasan wisata Mbebeng. Indah sekali dapat melihat siluet merapi dari sini, walaupun dingin menggigit. Sepi.., hanya ada kami berdua di bibir jurang. Tanpa segan aku memeluk Mas Putra untuk mencari kehangatan. Dia membalas merangkulku. Kemudian kami naik agak ke atas, tempat panggung yang sudah rusak karena tidak terawat sambil berangkulan. Pelan-pelan Mas Putra mulai mencium ubun-ubunku. Aku mendongak, dia langsung menyambar bibirku.
Hari sudah gelap, sehingga aman melakukannya di alam terbuka begini. Kami berciuman dengan panas, tangannya berkeliaran di payudaraku. Tanganku memeluk punggungnya. Begitu tiba di belakang panggung, Mas Putra memepetkan tubuhku di dinding dan mencumbuku habis-habisan, sepertinya dia ingin membalas perlakuanku kemarin. Baju kaosku direnggut dari kepala, begitu juga dengan bra. Pelan dicumbunya leher, turun ke payudara dan menaikkan rok yang kupakai. Tangannya meraba-raba vaginaku yang mulai basah. Tanpa komando, dia membuka sendiri kemejanya di depanku pelan-pelan, seolah mau merangsangku.
Dengan menatap mataku, dia melepas satu persatu kancing kemejanya sambil mengelus sendiri puting susunya. Perlahan tangannya turun ke pusar, terus membuka reslueting jeans pelan, merogoh ke dalam CD tanpa mengeluarkan penis. Jujur, aku benar-benar terangsang. Tapi aku masih ingin menikmati permainannya. Pelan dia menurunkan jeans-nya, tinggal CD yang menempel dengan siluet penis menyamping. Perlahan dia mendekat dan mencumbuku lagi, kali ini santai tidak menggebu-gebu lagi seperti tadi.
Aku menikmati setiap sentuhan, dan aku mengerang tanpa malu-malu. CD-ku dilepaskannya dengan mulut tanpa membuka rok yang hanya dinaikkan. Dia membuka CD-nya juga, penisnya tegak menjulang merangsang. Kembali kami saling berangkulan. Terasa denyutan penisnya di perutku. Perlahan dia menaikkan tubuhku ke atas batu, dan membuat tubuh kami sejajar. Terasa penisnya kini menempel di vaginaku sekarang. Hangat. Kali ini aku pasrah kalau dia mau penetrasi. Penisnya hanya digesek-gesekkan di vaginaku sambil mengulum bibirku.
Kemudian dia meraba vaginaku yang sudah basah. Ditatapnya mataku sambil memegang bahu. Kami saling bertatapan lama. Perlahan tangannya mengarahkan penis ke vagianku. Aku memeluk punggungnya sambil terus bertatapan. Kubantu penisnya mencari lubang vaginaku, dia memeluk bahuku, mencium pelan bibirku, dan begitu merasa sudah pas, dia menekan pelan penisnya ke vaginaku. Pelan kepala penisnya terasa menyeruak masuk, aku meremas punggungnya. Terasa nyeri.
Dia menghentikan gerakannya sejenak. Mencumbu bibirku lagi, mengelus punggung dan mencium kupingku. Aku agak tenang, kemudian pelan dia kembali menekan penisnya lebih dalam, aku menggigit bibir, dia menatapku waktu memasukkan lagi penisnya pelan-pelan. Aku mendongak dan menjerit tertahan. Dia berhenti setelah semua penisnya masuk dan mencumbu leherku yang mendongak, aku masih merasa nyeri. Mas Putra mendiamkan penisnya di vaginaku, sementara kami mulai bercumbu lagi.
Setelah aku tenang lagi, pelan dia mulai menggoyangkan pantatnya. Pelan-pelan penisnya keluar masuk di vaginaku. Aku mulai menerima rasa sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gerakan pelan mulai berubah menjadi gerakan liar, kocokan penisnya di vaginaku semakin kencang, aku semakin bergairah, mengerang, menggigit. Kakiku yang kanan mengait di pinggang Mas Putra dibantu tangannya, sementara tanganku memeluk punggungya.
Waktu aku mau klimaks, aku menghentikan goyangan, dan Mas Putra mengerti dan menghentikan kocokannya juga. Kami bercumbu sebentar, menenangkan diri dengan penis tetap menancap di vagina. Aku menawarkan untuk ganti posisi dan Mas Putra menyetujui. Kami sepakat mencoba doggie style. Aku langsung menungging di atas rumput, dan Mas Putra berlutut segera memasukkan penisnya dan mulai mengocok, terasa sensai yang lain lagi. Aku mengerang bebas dan Mas Putra merangkulku dari belakang meremas payudara sambil terus mengocok.
Agak lama aku klimaks, malah gantian Mas Putra yang mau klimaks, tubuhnya menegang dan meracau. Aktifitas langsung berhenti. Kali ini aku aktif mencumbunya, kami duduk berhadapan, kakinya menjulur lurus, aku duduk di atasnya memasukkan vagina ke penis, mengoyang-goyang pelan, akhirnya di merebahkan dirinya di atas rumput. Aku makin leluasa mengocok penisnya di vaginaku. Terasa penetrasi lebih dalam dan dinding vaginaku terasa geli dan nikmat.
Sebelum klimaks, lagi-lagi kami ganti posisi, Mas Putra gantian menindihku dengan gaya konvensional. Kocokannya benar-benar bernafsu dan cepat, aku menggelinjang geli dan membalas setiap gerakan Mas Putra. Kami saling mengerang, menjerit tertahan dengan nafas mendengus sampai tubuhku menegang akan mencapai klimaks. Mas Putra tidak perduli, terus mengocok penisnya, aku menjerit pelan begitu klimaks, memeluk Mas Putra lemas yang terus menggenjot sampai dia pun klimaks. Kami saling berangkulan di atas rumput, tersenyum dengan peluh membanjiri tubuh. Setelah berpakaian kami segera pulang.
Mbak ira suster cantukku
Cerita SEX Mbak Ira Suster Cantukku
Mbak Ira, Suster Cantikku
Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dirawat di
rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu.
Dan dalam urusan asmara, khususnya "bercinta" saya sama sekali belum memiliki
pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena
semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua
pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.
Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Ira
adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala
pengakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama
itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku
terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah
sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan
teman-temanku datang membesukku saja.
Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat
duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya,
jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya
sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap.
Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun,
saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya
memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku
untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.
Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil
suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang kuanggap paling cantik dan paling baik
dimataku itu masuk ke kamarku.
"Ada apa Dik?" tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.
Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku
membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan
menggiurkan.
"Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini
panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya
sudah boleh mandi hari ini mbak?", tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.
Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih
muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang
khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.
"Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti
tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum", jelasnya
ramah.
Mendengar kalimatnya untuk "memandikan", saya merasa darahku seolah berdesir
keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau
memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu.
"Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-
ngga ya. hi hi hi".
Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus
kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan
menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.
"Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok", elakku
sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu.
"Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak
bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-
bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya", lanjut Mbak Ira lagi
seolah memancing gairahku.
"Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusa"
jawabku serius, saya tidak mau terlihat "nakal" dihadapan suster cantik ini. Lagi pula
saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita.
Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia
mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku.
"Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket", lanjutnya sambil
membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak.
Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.
Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya
tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah
pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga
sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.
Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan
halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah
lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani
sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat.
Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang
dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di
permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini.
fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas
pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung
kontolku karena terangsang.
Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.
Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kontolku yang
ereksi.
"Iya Mbak..", jawabku sambil berusaha menenangkan diri, sayapun membalikkan
tubuhku.
Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat
kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan
perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata.
Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin
agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi
saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.
"Ahh, geli dan enak banget", pikirku.
"Wah, kok jadi keras ya? he he he", saya kaget mendengar ucapannya ini.
"Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?"
Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku
langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani
berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma
tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin berani, dia
sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan
jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku.
"Ahh, geli Mbak. Jangan digituin", kataku menahan malu.
"Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini",
lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya.
Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin
terus di"kerjain" oleh mbak Ira, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan
orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.
"Dik Iwan sudah punya pacar?", tanya mbak Ira kepadaku.
"Belum Mbak", jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan
berbicara.
"Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?", tanyanya lagi.
"Belum mbak" jawabku lagi.
"hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih", lanjutnya centil.
Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya
"main" apaan yang saya pikirkan barusan.
Pasti dia berpikir saya benar-benar "nakal" pikirku saat itu.
"Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-
main sama Mbak ya?
Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.
Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya.
Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.
Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil
memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya.
"Ahh, geli Mbak"m rintihku keenakan.
Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya
cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani
membalas ciumannya.
Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat
geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya
dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong
lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu.
Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya
mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
"Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bias gawat", katanya.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan
berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.
Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan
kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu.
Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai
saya telangjang bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya,
digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga
saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat
dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini
lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun
mbak Ira benar-benar pintar membimbingku.
Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman.
Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan
kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat
meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku,
kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali
menggigitnya.
"Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih", desahnya seolah geram
sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.
Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya.
Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas
kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira
memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap selangkanganku,
dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya.
"Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh... ahh..", desahku menahan agar tidak
menyemburkan maniku cepat-cepat.
Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang
kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-
gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.
Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.
Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata
dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas
posisi kakiku.
Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya
dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik
memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan
sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki.
"Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget", desahnya keras.
Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar
orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga.
"Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget", pintaku karena
memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti
adegan film BF yang biasa kutonton.
"Ih.. kamu nakal yah", jawabnya sambil tersenyum.
Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin
oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat
gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum
pernah kurasakan sebelumnya.
Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar,
kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya,
disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa
mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.
"Ahh.. ahh..", saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya
untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu.
Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu
cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam
mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.
Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang
kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah
tahu bahwa saya akan segera "keluar", Mbak Ira menghisap semakin kencang,
disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak
sekali.
"AHH.. AHH.. Ahh.. ahh", teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat
kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira.
Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang
kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang
kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih,
sampai kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang
dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan
kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini
memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar
pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya
cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh
belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku
secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira.
Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri
kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas "panas" yang
dilakukan mbak Ira.
Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga
desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.
Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira
tampak semakin terangsang juga.
Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan
digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting
susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu.
"Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..", canda mbak Ira sambil mendekati
diriku.
Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja
dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat
kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali
basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan
jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya.
"Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe", agak kecewa saya
mendengar tolakannya ini.
Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput
darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati
permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit
terakhir ini.
Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih
asyik "bermain" di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku
dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah
oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya,
sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat
kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira
sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan
memeknya sendiri.
Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.
Dia merintih, "Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar", teriaknya
sambil mempercepat gosokan tangannya.
"Sini mbak, saya mau menjilatnya", jawabku spontan, karena teringat adegan film
BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme
dengan bernafsu.
Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku.
"Nih.. cepet hisap Wan, hisap..", desahnya seolah memelas.
Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku
benar-benar menikmati pengalaman indah ini.
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya.
Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-
bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar
kelentitnya.
"Ahh.. ahh..", desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan dengan cairan hangat
yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya
saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu.
Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan
gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun orgasme untuk kedua kalinya.
Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti
membawaku terbang ke langit ke tujuh.
Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas
pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas. Kami
sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling
merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami
keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.
Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya
sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama
SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya
yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya
keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan
sekedar esek-esek.
Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih kerja di Rumah sakit
itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain
hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering
merasa "horny" menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama
suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Ira.
Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi
hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar
fantastis menurutku...
>>>>>>>>>>TAMAT<<<<<<<<<<
Cerita SEX Mbak Ira Suster Cantukku
Mbak Ira, Suster Cantikku
Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dirawat di
rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu.
Dan dalam urusan asmara, khususnya "bercinta" saya sama sekali belum memiliki
pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena
semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua
pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.
Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Ira
adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala
pengakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama
itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku
terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah
sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan
teman-temanku datang membesukku saja.
Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat
duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya,
jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya
sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap.
Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun,
saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya
memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku
untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.
Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil
suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang kuanggap paling cantik dan paling baik
dimataku itu masuk ke kamarku.
"Ada apa Dik?" tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.
Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku
membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan
menggiurkan.
"Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini
panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya
sudah boleh mandi hari ini mbak?", tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.
Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih
muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang
khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.
"Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti
tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum", jelasnya
ramah.
Mendengar kalimatnya untuk "memandikan", saya merasa darahku seolah berdesir
keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau
memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu.
"Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-
ngga ya. hi hi hi".
Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus
kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan
menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.
"Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok", elakku
sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu.
"Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak
bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-
bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya", lanjut Mbak Ira lagi
seolah memancing gairahku.
"Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusa"
jawabku serius, saya tidak mau terlihat "nakal" dihadapan suster cantik ini. Lagi pula
saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita.
Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia
mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku.
"Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket", lanjutnya sambil
membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak.
Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.
Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya
tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah
pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga
sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.
Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan
halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah
lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani
sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat.
Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang
dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di
permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini.
fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas
pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung
kontolku karena terangsang.
Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.
Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kontolku yang
ereksi.
"Iya Mbak..", jawabku sambil berusaha menenangkan diri, sayapun membalikkan
tubuhku.
Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat
kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan
perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata.
Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin
agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi
saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.
"Ahh, geli dan enak banget", pikirku.
"Wah, kok jadi keras ya? he he he", saya kaget mendengar ucapannya ini.
"Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?"
Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku
langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani
berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma
tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin berani, dia
sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan
jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku.
"Ahh, geli Mbak. Jangan digituin", kataku menahan malu.
"Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini",
lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya.
Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin
terus di"kerjain" oleh mbak Ira, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan
orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.
"Dik Iwan sudah punya pacar?", tanya mbak Ira kepadaku.
"Belum Mbak", jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan
berbicara.
"Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?", tanyanya lagi.
"Belum mbak" jawabku lagi.
"hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih", lanjutnya centil.
Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya
"main" apaan yang saya pikirkan barusan.
Pasti dia berpikir saya benar-benar "nakal" pikirku saat itu.
"Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-
main sama Mbak ya?
Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.
Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya.
Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.
Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil
memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya.
"Ahh, geli Mbak"m rintihku keenakan.
Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya
cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani
membalas ciumannya.
Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat
geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya
dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong
lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu.
Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya
mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
"Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bias gawat", katanya.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan
berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.
Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan
kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu.
Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai
saya telangjang bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya,
digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga
saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat
dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini
lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun
mbak Ira benar-benar pintar membimbingku.
Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman.
Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan
kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat
meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku,
kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali
menggigitnya.
"Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih", desahnya seolah geram
sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.
Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya.
Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas
kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira
memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap selangkanganku,
dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya.
"Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh... ahh..", desahku menahan agar tidak
menyemburkan maniku cepat-cepat.
Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang
kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-
gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.
Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.
Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata
dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas
posisi kakiku.
Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya
dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik
memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan
sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki.
"Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget", desahnya keras.
Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar
orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga.
"Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget", pintaku karena
memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti
adegan film BF yang biasa kutonton.
"Ih.. kamu nakal yah", jawabnya sambil tersenyum.
Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin
oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat
gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum
pernah kurasakan sebelumnya.
Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar,
kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya,
disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa
mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.
"Ahh.. ahh..", saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya
untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu.
Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu
cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam
mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.
Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang
kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah
tahu bahwa saya akan segera "keluar", Mbak Ira menghisap semakin kencang,
disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak
sekali.
"AHH.. AHH.. Ahh.. ahh", teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat
kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira.
Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang
kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang
kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih,
sampai kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang
dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan
kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini
memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar
pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya
cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh
belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku
secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira.
Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri
kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas "panas" yang
dilakukan mbak Ira.
Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga
desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.
Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira
tampak semakin terangsang juga.
Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan
digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting
susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu.
"Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..", canda mbak Ira sambil mendekati
diriku.
Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja
dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat
kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali
basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan
jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya.
"Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe", agak kecewa saya
mendengar tolakannya ini.
Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput
darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati
permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit
terakhir ini.
Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih
asyik "bermain" di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku
dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah
oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya,
sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat
kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira
sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan
memeknya sendiri.
Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.
Dia merintih, "Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar", teriaknya
sambil mempercepat gosokan tangannya.
"Sini mbak, saya mau menjilatnya", jawabku spontan, karena teringat adegan film
BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme
dengan bernafsu.
Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku.
"Nih.. cepet hisap Wan, hisap..", desahnya seolah memelas.
Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku
benar-benar menikmati pengalaman indah ini.
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya.
Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-
bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar
kelentitnya.
"Ahh.. ahh..", desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan dengan cairan hangat
yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya
saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu.
Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan
gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun orgasme untuk kedua kalinya.
Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti
membawaku terbang ke langit ke tujuh.
Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas
pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas. Kami
sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling
merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami
keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.
Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya
sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama
SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya
yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya
keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan
sekedar esek-esek.
Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih kerja di Rumah sakit
itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain
hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering
merasa "horny" menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama
suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Ira.
Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi
hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar
fantastis menurutku...
>>>>>>>>>>TAMAT<<<<<<<<<
Mbak Ira, Suster Cantikku
Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dirawat di
rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu.
Dan dalam urusan asmara, khususnya "bercinta" saya sama sekali belum memiliki
pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena
semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua
pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.
Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Ira
adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala
pengakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama
itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku
terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah
sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan
teman-temanku datang membesukku saja.
Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat
duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya,
jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya
sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap.
Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun,
saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya
memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku
untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.
Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil
suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang kuanggap paling cantik dan paling baik
dimataku itu masuk ke kamarku.
"Ada apa Dik?" tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.
Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku
membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan
menggiurkan.
"Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini
panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya
sudah boleh mandi hari ini mbak?", tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.
Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih
muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang
khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.
"Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti
tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum", jelasnya
ramah.
Mendengar kalimatnya untuk "memandikan", saya merasa darahku seolah berdesir
keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau
memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu.
"Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-
ngga ya. hi hi hi".
Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus
kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan
menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.
"Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok", elakku
sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu.
"Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak
bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-
bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya", lanjut Mbak Ira lagi
seolah memancing gairahku.
"Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusa"
jawabku serius, saya tidak mau terlihat "nakal" dihadapan suster cantik ini. Lagi pula
saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita.
Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia
mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku.
"Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket", lanjutnya sambil
membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak.
Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.
Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya
tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah
pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga
sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.
Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan
halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah
lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani
sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat.
Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang
dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di
permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini.
fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas
pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung
kontolku karena terangsang.
Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.
Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kontolku yang
ereksi.
"Iya Mbak..", jawabku sambil berusaha menenangkan diri, sayapun membalikkan
tubuhku.
Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat
kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan
perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata.
Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin
agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi
saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.
"Ahh, geli dan enak banget", pikirku.
"Wah, kok jadi keras ya? he he he", saya kaget mendengar ucapannya ini.
"Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?"
Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku
langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani
berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma
tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin berani, dia
sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan
jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku.
"Ahh, geli Mbak. Jangan digituin", kataku menahan malu.
"Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini",
lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya.
Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin
terus di"kerjain" oleh mbak Ira, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan
orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.
"Dik Iwan sudah punya pacar?", tanya mbak Ira kepadaku.
"Belum Mbak", jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan
berbicara.
"Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?", tanyanya lagi.
"Belum mbak" jawabku lagi.
"hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih", lanjutnya centil.
Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya
"main" apaan yang saya pikirkan barusan.
Pasti dia berpikir saya benar-benar "nakal" pikirku saat itu.
"Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-
main sama Mbak ya?
Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.
Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya.
Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.
Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil
memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya.
"Ahh, geli Mbak"m rintihku keenakan.
Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya
cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani
membalas ciumannya.
Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat
geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya
dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong
lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu.
Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya
mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
"Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bias gawat", katanya.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan
berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.
Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan
kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu.
Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai
saya telangjang bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya,
digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga
saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat
dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini
lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun
mbak Ira benar-benar pintar membimbingku.
Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman.
Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan
kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat
meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku,
kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali
menggigitnya.
"Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih", desahnya seolah geram
sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.
Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya.
Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas
kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira
memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap selangkanganku,
dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya.
"Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh... ahh..", desahku menahan agar tidak
menyemburkan maniku cepat-cepat.
Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang
kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-
gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.
Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.
Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata
dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas
posisi kakiku.
Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya
dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik
memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan
sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki.
"Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget", desahnya keras.
Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar
orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga.
"Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget", pintaku karena
memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti
adegan film BF yang biasa kutonton.
"Ih.. kamu nakal yah", jawabnya sambil tersenyum.
Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin
oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat
gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum
pernah kurasakan sebelumnya.
Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar,
kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya,
disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa
mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.
"Ahh.. ahh..", saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya
untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu.
Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu
cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam
mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.
Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang
kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah
tahu bahwa saya akan segera "keluar", Mbak Ira menghisap semakin kencang,
disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak
sekali.
"AHH.. AHH.. Ahh.. ahh", teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat
kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira.
Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang
kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang
kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih,
sampai kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang
dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan
kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini
memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar
pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya
cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh
belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku
secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira.
Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri
kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas "panas" yang
dilakukan mbak Ira.
Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga
desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.
Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira
tampak semakin terangsang juga.
Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan
digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting
susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu.
"Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..", canda mbak Ira sambil mendekati
diriku.
Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja
dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat
kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali
basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan
jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya.
"Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe", agak kecewa saya
mendengar tolakannya ini.
Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput
darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati
permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit
terakhir ini.
Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih
asyik "bermain" di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku
dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah
oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya,
sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat
kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira
sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan
memeknya sendiri.
Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.
Dia merintih, "Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar", teriaknya
sambil mempercepat gosokan tangannya.
"Sini mbak, saya mau menjilatnya", jawabku spontan, karena teringat adegan film
BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme
dengan bernafsu.
Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku.
"Nih.. cepet hisap Wan, hisap..", desahnya seolah memelas.
Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku
benar-benar menikmati pengalaman indah ini.
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya.
Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-
bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar
kelentitnya.
"Ahh.. ahh..", desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan dengan cairan hangat
yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya
saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu.
Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan
gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun orgasme untuk kedua kalinya.
Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti
membawaku terbang ke langit ke tujuh.
Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas
pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas. Kami
sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling
merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami
keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.
Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya
sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama
SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya
yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya
keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan
sekedar esek-esek.
Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih kerja di Rumah sakit
itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain
hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering
merasa "horny" menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama
suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Ira.
Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi
hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar
fantastis menurutku...
>>>>>>>>>>TAMAT<<<<<<<<<<
Cerita SEX Mbak Ira Suster Cantukku
Mbak Ira, Suster Cantikku
Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dirawat di
rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu.
Dan dalam urusan asmara, khususnya "bercinta" saya sama sekali belum memiliki
pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena
semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua
pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.
Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Ira
adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala
pengakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama
itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku
terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah
sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan
teman-temanku datang membesukku saja.
Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat
duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya,
jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya
sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap.
Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun,
saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya
memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku
untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.
Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil
suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang kuanggap paling cantik dan paling baik
dimataku itu masuk ke kamarku.
"Ada apa Dik?" tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.
Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku
membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan
menggiurkan.
"Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini
panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya
sudah boleh mandi hari ini mbak?", tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.
Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih
muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang
khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.
"Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti
tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum", jelasnya
ramah.
Mendengar kalimatnya untuk "memandikan", saya merasa darahku seolah berdesir
keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau
memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu.
"Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-
ngga ya. hi hi hi".
Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus
kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan
menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.
"Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok", elakku
sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu.
"Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak
bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-
bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya", lanjut Mbak Ira lagi
seolah memancing gairahku.
"Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusa"
jawabku serius, saya tidak mau terlihat "nakal" dihadapan suster cantik ini. Lagi pula
saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita.
Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia
mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku.
"Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket", lanjutnya sambil
membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak.
Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.
Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya
tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah
pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga
sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.
Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan
halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah
lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani
sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat.
Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang
dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di
permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini.
fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas
pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung
kontolku karena terangsang.
Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.
Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kontolku yang
ereksi.
"Iya Mbak..", jawabku sambil berusaha menenangkan diri, sayapun membalikkan
tubuhku.
Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat
kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan
perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata.
Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin
agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi
saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.
"Ahh, geli dan enak banget", pikirku.
"Wah, kok jadi keras ya? he he he", saya kaget mendengar ucapannya ini.
"Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?"
Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku
langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani
berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma
tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin berani, dia
sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan
jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku.
"Ahh, geli Mbak. Jangan digituin", kataku menahan malu.
"Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini",
lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya.
Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin
terus di"kerjain" oleh mbak Ira, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan
orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.
"Dik Iwan sudah punya pacar?", tanya mbak Ira kepadaku.
"Belum Mbak", jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan
berbicara.
"Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?", tanyanya lagi.
"Belum mbak" jawabku lagi.
"hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih", lanjutnya centil.
Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya
"main" apaan yang saya pikirkan barusan.
Pasti dia berpikir saya benar-benar "nakal" pikirku saat itu.
"Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-
main sama Mbak ya?
Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.
Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya.
Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.
Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil
memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya.
"Ahh, geli Mbak"m rintihku keenakan.
Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya
cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani
membalas ciumannya.
Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat
geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya
dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong
lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu.
Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya
mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
"Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bias gawat", katanya.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan
berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.
Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan
kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu.
Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai
saya telangjang bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya,
digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga
saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat
dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini
lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun
mbak Ira benar-benar pintar membimbingku.
Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman.
Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan
kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat
meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku,
kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali
menggigitnya.
"Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih", desahnya seolah geram
sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.
Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya.
Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas
kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira
memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap selangkanganku,
dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya.
"Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh... ahh..", desahku menahan agar tidak
menyemburkan maniku cepat-cepat.
Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang
kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-
gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.
Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.
Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata
dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas
posisi kakiku.
Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya
dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik
memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan
sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki.
"Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget", desahnya keras.
Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar
orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga.
"Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget", pintaku karena
memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti
adegan film BF yang biasa kutonton.
"Ih.. kamu nakal yah", jawabnya sambil tersenyum.
Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin
oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat
gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum
pernah kurasakan sebelumnya.
Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar,
kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya,
disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa
mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.
"Ahh.. ahh..", saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya
untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu.
Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu
cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam
mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.
Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang
kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah
tahu bahwa saya akan segera "keluar", Mbak Ira menghisap semakin kencang,
disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak
sekali.
"AHH.. AHH.. Ahh.. ahh", teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat
kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira.
Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang
kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang
kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih,
sampai kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang
dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan
kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini
memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar
pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya
cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh
belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku
secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira.
Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri
kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas "panas" yang
dilakukan mbak Ira.
Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga
desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.
Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira
tampak semakin terangsang juga.
Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan
digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting
susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu.
"Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..", canda mbak Ira sambil mendekati
diriku.
Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja
dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat
kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali
basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan
jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya.
"Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe", agak kecewa saya
mendengar tolakannya ini.
Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput
darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati
permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit
terakhir ini.
Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih
asyik "bermain" di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku
dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah
oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya,
sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat
kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira
sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan
memeknya sendiri.
Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.
Dia merintih, "Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar", teriaknya
sambil mempercepat gosokan tangannya.
"Sini mbak, saya mau menjilatnya", jawabku spontan, karena teringat adegan film
BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme
dengan bernafsu.
Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku.
"Nih.. cepet hisap Wan, hisap..", desahnya seolah memelas.
Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku
benar-benar menikmati pengalaman indah ini.
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya.
Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-
bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar
kelentitnya.
"Ahh.. ahh..", desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan dengan cairan hangat
yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya
saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu.
Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan
gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun orgasme untuk kedua kalinya.
Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti
membawaku terbang ke langit ke tujuh.
Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas
pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas. Kami
sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling
merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami
keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.
Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya
sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama
SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya
yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya
keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan
sekedar esek-esek.
Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih kerja di Rumah sakit
itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain
hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering
merasa "horny" menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama
suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Ira.
Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi
hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar
fantastis menurutku...
>>>>>>>>>>TAMAT<<<<<<<<<
Langganan:
Komentar (Atom)